
Rembang – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Kota Rembang menurun.
Salah satu pedagang Sembako, Nurwiyati Mukmin mengungkapkan harga telur dari Rp 30.000, sekarang turun menjadi Rp 23.000 per Kg.
Bawang merah sempat menembus harga Rp 60.000, kini tinggal Rp 40.000 per Kg.
“Kalau bawang putih stabil,” tuturnya, Rabu 01 Juli 2026.
Harga komoditas berikutnya yang turun adalah minyak goreng curah, dari Rp 22.000 menjadi Rp 20.000 per liter.
“Untuk minyak goreng kemasan masih stabil di angka Rp 21.000 mas,” imbuh Nurwiyati.
Selain itu, cabai rawit dan cabai merah, juga mengalami penurunan cukup signifikan.
“Cabai rawit dari Rp 30.000 menjadi Rp 20.000 per Kg, lalu cabai merah dari Rp 60.000, sekarang tinggal Rp 40.000/Kg,” bebernya.
Di kalangan pedagang menyebut, penurunan harga ini diduga terjadi lantaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) libur, pada saat liburan sekolah.
Ia sendiri lebih setuju jika tidak ada MBG, supaya harga relatif stabil dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Soalnya kalau ada MBG, harga-harga Sembako naik, daya beli masyarakat jadi turun. Imbasnya ke pedagang juga,” ucapnya.
Pedagang lain, Tamijan mengakui penurunan harga yang paling mencolok adalah telur dan cabai.
“Kata-kata dari pedagang itu kan, karena dapur MBG nggak beli barang, akhirnya harga jadi turun. Saya sendiri kebetulan termasuk ikut memasok bahan kebutuhan ke dapur MBG mas,” ujar pedagang dari Desa Waru, Rembang ini.
Pedagang lain, Juari membenarkan harga sejumlah komoditas terjadi penurunan.
Ia mengamati daya beli masyarakat tergolong masih biasa. Harapannya kedepan harga kebutuhan pokok, jangan naik terlalu tinggi, sehingga dapat mengangkat daya beli.
“Kasihan masyarakat, kalau naiknya terlalu tinggi. Yang diharapkan kan nggak terlalu rendah, biar petani merasakan. Nggak terlalu tinggi, agar masyarakat umum tidak terbebani,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu orang tua murid di Rembang, Purwanti mengaku lega terhadap fenomena tersebut.
Jika awalnya ketika ada program MBG, diduga banyak yang membeli langsung dari pemasok-pemasok besar, mengakibatkan stok di pasaran berkurang dan harganya naik, sekarang begitu MBG libur, harga berangsur-angsur turun.
Ia berharap pemerintah mengevaluasi program MBG, untuk diarahkan ke daerah-daerah tertinggal saja, yang lebih membutuhkan.
“Harusnya MBG bisa tepat sasaran, biar nggak banyak terbuang dan menguras duwit negara, atau ada perubahan, uang diserahkan tunai ke orang tua murid, pasar-pasar tradisional pasti akan ikut ramai. Kita-kita belanja dari pedagang keliling, pedagang keliling kulakan dari pasar. Kalau sekarang, dari pemasok besar sudah diborong MBG, ya ujung-ujungnya rakyat kecil yang kena dampak,” ucap Purwanti. (Musyafa Musa).

