
Rembang – Harga kedelai impor di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah terus mengalami kenaikan. Hal itu dipicu oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.
Perajin tempe dan tahu pun terpukul, karena omset mereka menurun.
Di Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Kabupaten Rembang, sebelah selatan Pasar Rembang, saat ini hanya menjual kedelai impor dari Amerika Serikat.
Barang yang tersedia, kedelai merek Siip dan Pagoda. Kedelai impor tersebut dinilai memiliki kualitas jauh lebih bagus, dibandingkan kedelai lokal.
Seiring nilai tukar Rupiah semakin melemah terhadap Dolar AS, harga kedelai dari AS kian melambung.
Hari Rabu ini (03 Juni 2026), sudah menembus Rp 10.700 per Kilo Gram. Padahal sebelumnya, hanya Rp 9.000, kemudian naik Rp 9.500, Rp 9.800, lalu naik lagi sampai pada posisi Rp 10.700 per Kg.
Salah satu perajin tempe warga Sugiyan Desa Pulo, Rembang, Ratna Irmawati mengaku terpaksa mengurangi ukuran tahu dan tempe, untuk menyiasati kondisi tersebut.
“Lhah gimana mas, soalnya nggak cuman kedelai saja yang naik. Harga plastik untuk pembungkus juga naik,” ungkapnya.
Kalau perajin menaikkan harga dagangan, ia khawatir akan kehilangan banyak pelanggan.
Apalagi belakangan ini omset dagangan semakin menurun, karena daya beli masyarakat ikut menurun.
“Biasanya saya waktu normal, habis kedelai 30 Kg, sekarang tinggal 15 Kg per hari. Pesaing juga banyak, omset turun,” imbuh Ratna.
Pihak Primkopti Rembang mengakui trend harga kedelai terus naik dan belum pernah turun, semenjak nilai tukar Rupiah terhadap Dolar melemah.
Rinwati, salah satu pengurus Primkopti Rembang menjelaskan angka penjualan kedelai turun.
“Katakanlah biasanya rata-rata 2 Ton per hari, sekarang tinggal 1 Ton per hari. Soalnya, harga kedelai yang semakin mahal, berdampak pada daya beli,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan insentif khusus, untuk harga kedelai di sektor usaha tempe tahu kelas menengah ke bawah.
“Rencana mau ada pertemuan Primkopti di Salatiga. Keluhan-keluhan anggota, akan kami teruskan. Anggota (pembeli) yang masih aktif di sini, kisaran 50 an orang. Mohon pemerintah dapat mencarikan solusi, soal harga kedelai impor,” imbuh Rin.
Terkait penjualan kedelai lokal, Primkopti Rembang sebenarnya sudah pernah mencoba.
Namun kualitas kedelai lokal, tergolong rendah dan tidak kuat bertahan lama, sehingga kurang diminati pembeli.
“Kedelai lokal itu, ukurannya kecil-kecil. Nggak kuat bertahan lama. Dibuat tempe dan tahu, rasanya kurang enak. Beda dengan kedelai impor, ukuran kedelai besar dan tahan lama. Nah ini yang kedepan perlu dipikirkan pemerintah, bagaimana pengembangan kedelai lokal agar lebih bagus lagi,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

