Guci Dan Semangat Tiqom, Optimisme Dari Kaki Gunung Slamet
Tiqom, penjual minuman keliling di kawasan Wisata Guci.
Tiqom, penjual minuman keliling di kawasan Wisata Guci.

Kab. Tegal – Kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Slamet, pagi ini, Sabtu 14 Februari 2026.

Jam baru menunjukkan pukul 05.00 pagi, namun dinginnya udara cukup membuat gemeretak gigi.

Tiqom, melangkahkan kaki dari rumahnya di Desa Pekandangan, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, menyusuri jalan yang masih sepi.

Tak ada raut keraguan, meski kawasan Wisata Guci sempat dihantam banjir bandang, pada bulan Januari 2026 lalu.

Berjualan minuman hangat keliling dari satu penginanan ke penginapan, di sekitar Wisata Guci sudah menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya, selama belasan tahun terakhir.

“Saya juga buka warung mas. Tapi kalau pagi, jualan keliling. Bencana yang lalu biarlah berlalu, kita harus tetap semangat,” tuturnya.

Wanita berusia 50 tahun ini mengakui setelah kejadian bencana, omset dagangannya memang sempat menurun drastis.

“Paling (penghasilan) sehari hanya dapat Rp 20.000, kalau sebelumnya ya bisa Rp 300.000 – 400.000,” imbuh Tiqom.

Namun bagi Tiqom, pasang surut pendapatan, bukanlah sebuah halangan untuk tetap berjualan.

“Namanya orang berdagang kan begitu. Sudah biasa, justru tantangan buat saya, bagaimana bisa bertahan. Yang penting jangan menyerah. Apalagi saya punya dua anak masih sekolah,” ungkapnya penuh keyakinan.

Tiqom biasanya berjualan keliling sehabis Subuh sampai menjelang siang. Setelah itu, baru bergeser menjaga warung.

Wisatawan yang berkunjung ke Wisata Guci, selama ini menjadi pembeli terbanyak.

“Kalau pembeli lokalan sekitar sini, nggak sampai 20 %,” ucap Tiqom.

Ia sangat mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Tegal, menggratiskan tiket masuk Wisata Guci, untuk menggairahkan tingkat kunjungan wisatawan.

“Saya optimis, Guci bisa bangkit lagi. Terima kasih sudah membeli jahe hangat dagangan saya,” pungkasnya tersenyum, sambil berjalan melintasi turunan tajam.

Tiqom tidak sendiri. Ahmadi, pedagang lain di kawasan Wisata Guci juga memilih tetap bertahan.

Penjual sate ini berharap Pemkab Tegal mempercepat pemulihan. Apalagi pada waktu Lebaran, biasanya terjadi lonjakan wisatawan.

“Saya termasuk salah satu yang percaya, Wisata Guci akan dinaikkan derajatnya oleh Allah Swt. Kita ambil sisi positifnya saja. Dulu pasca kejadian bus masuk sungai di Guci, kondisi juga sepi, lalu ramai lagi. Sekarang pasca bencana, pada waktu yang akan datang, Guci muda-mudahan bisa terangkat kembali, Aamiin,” bebernya.

Bupati Kabupaten Tegal, Ischak Maulana Rohman menegaskan kawasan Wisata Guci sangat aman dikunjungi.

“Silahkan masyarakat datang ke sini, kondisi secara umum aman untuk dikunjungi,” ungkapnya.

Ischak membeberkan pasca banjir bandang, pihaknya sudah melakukan langkah-langkah cepat penanganan.

“Yang terdampak, Pancuran 13, Pancuran 5, ini proses recovery. Pancuran 13 merupakan ikon utama. Kami akan bangun jembatan di sana, kita bikin yang ikonik, yang instagramable,” kata Ischak.

Bupati mengajak masyarakat sekitar kawasan Wisata Guci nantinya melakukan penataan pipa air secara terintegrasi, sehingga kondisi kedepan akan jauh lebih baik.

“Kita buat jembatan yang bagus, kemudian mohon warga juga menata jalur pipanya ya. Ini semua butuh usaha kuat dan tenaga besar dari kita semua,” terangnya.

Kepala daerah berusia 32 tahun ini optimis Wisata Guci akan tumbuh berkembang, karena memiliki potensi alam yang luar biasa dan sejatinya sangat disenangi para pengunjung.

“Banyak masyarakat yang bergantung dari Wisata Guci. Pedagang, pengelola wisata, penginapan, sektor transportasi dan masih banyak yang lain. Dengan dukungan dari provinsi, pusat, recovery Guci sudah siap,” tegas Bupati.

Ischak berujar singkat, di balik sebuah bencana, selalu ada hikmah. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan