Pintu SPPG Soditan Tertutup Rapat, Warganet Desak Tindakan Tegas
Dapur SPPG Soditan Kecamatan Lasem tampak tertutup rapat, Jum’at pagi (04 September 2026), usai kejadian keracunan massal diduga karena MBG.
Dapur SPPG Soditan Kecamatan Lasem tampak tertutup rapat, Jum’at pagi (04 September 2026), usai kejadian keracunan massal diduga karena MBG.

Lasem – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Kecamatan Lasem, hari Jum’at (04 September 2026) tidak beroperasi melayani makan bergizi gratis (MBG), pasca kejadian 777 siswa dan guru SMA N 1 Lasem mengalami keracunan, dengan gejala muntah dan diare.

Kepala SMA N 1 Lasem, Juhartutik saat dikonfirmasi menjelaskan sekolahnya sudah tidak menerima MBG lagi, sejak hari Kamis (03/09).

Informasi yang ia terima, sambil menunggu hasil laboratorium 16 hari kedepan, SPPG Soditan berhenti (tidak ada MBG).

Selanjutnya, pihak sekolah akan melakukan survei internal untuk melihat pendapat siswa dan guru, apakah MBG perlu dilanjutkan lagi atau tidak.

“Kami setelah ini akan melakukan survei (polling_Red) untuk memperhatikan pendapat siswa dan guru tentang keberlanjutan MBG,” terangnya.

Pada Jum’at Pagi, terdapat 6 pasien masih menjalani perawatan di Puskesmas Lasem.

Kirana, seorang pelajar SMA N 1 Lasem mengaku kondisinya sudah mulai membaik. Namun masih merasakan pusing dan sakit perut.

“Saya merasakan muntah dan diare sejak pukul satu Kamis dini hari. Kamis paginya tetap masuk, karena ada ulangan. Sekarang sudah membaik, tapi masih pusing dan perutnya sakit,” ujarnya.

Kepala SPPG Soditan, Achmad Sholeh Syariffuddin dan Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Rembang, Aprilia Qoulan Syaqila sampai pukul 11.00 Wib Jum’at siang, belum memberikan tanggapan tentang kondisi SPPG, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Namun pantauan di lokasi SPPG Soditan, pintu gerbang utama bagian depan, tampak tertutup rapat.

Selama ini, SPPG Soditan melayani 1.914 penerima manfaat, tersebar di PAUD Intan Permata Soditan, TK, KB dan SD Wijaya Kusuma, KB Islam Bakti 1, TK Muslimat 2, TK Bakti 1, TK Nusa Indah, TK ABA 1 dan 2, TK Abhinaya Soditan, SD N 3 Soditan, MTS An Nurriyah Lasem, SMA N 1 Lasem, selanjutnya ibu hamil, ibu menyusui dan Balita di Desa Soditan.

Jumlah penerima manfaat paling banyak di SMA N 1 Lasem, karena mencapai 1.244 orang.

Warganet sempat menggeruduk kolom komentar di berbagai platform media sosial, mendesak supaya ada tindakan tegas.

“Kapan MBG dihentikan ? keracunan terus menerus,” kata Edy S.

“Target pemerintah berapa sih ?? Ngracunin anak-anak, kasian Ortunya bolak balik rumah sakit,” timpal L. Marini.

“Hentikan MBG, karena sangat membahayakan nyawa dan uang rakyat,” ujar Widayat.

“Bubarkan saja SPPG,” ungkap I. Ifa. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.