Siapa Sebenarnya Sosok Eggy Yunaedi, Ditanya Habis Biaya Berapa Lukisan Garam Terbesar Se-Asia
Eggy Yunaedi, tokoh penting di balik lukisan garam terbesar se-Asia di Desa Dasun, Kecamatan Lasem.
Eggy Yunaedi, tokoh penting di balik lukisan garam terbesar se-Asia di Desa Dasun, Kecamatan Lasem.

Lasem – Siapa sebenarnya sosok Eggy Yunaedi (59 tahun), Kurator lukisan garam terbesar se-Asia yang dipusatkan di tambak Desa Dasun, Kecamatan Lasem ?

Eggy Yunaedi adalah pria asli Panjunan, Kelurahan Kutoharjo atau sebelah timur Pendopo Museum Kartini Rembang. Namun sekarang tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Ia pernah menjadi siswa SD N 5 Kutoharjo, kemudian pindah-pindah ke Mantingan Kecamatan Bulu dan Kalinanas Kecamatan Japah, Kabupaten Blora, karena mengikuti tugas ayahnya yang merupakan pegawai Perhutani.

“Masa kecil, pindah-pindah sekolah mas, ikut bapak,” ujarnya terkekeh.

Eggy melanjutkan sekolah di SMP N 1 Rembang. Setelah itu, SMA di Yogyakarta dan lulus kuliah di jurusan Komunikasi Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Angkatan tahun 1985.

Eggy selama lebih dari 20 tahun menekuni dunia periklanan di berbagai perusahaan advertising terkemuka. Dari periklanan, Eggy terjun ke dalam berbagai kegiatan seni budaya, yang merupakan dunia lamanya.

Termasuk sudah dua kali, Eggy Yunaedi menjadi tokoh penting di balik lukisan garam terbesar se-Asia di Desa Dasun Kecamatan Lasem.

Saat ditanya, berapa total biaya yang dihabiskan untuk membuat lukisan garam seluas hampir 1.900 Meter persegi itu ?

Eggy mengaku sulit untuk menghitung dengan angka secara pasti, karena pihaknya banyak mendapatkan sumbangan suka rela.

“Terus terang saya belum menghitung. Kalaupun dihitung tidak gampang, karena sebagian garam tidak sepenuhnya kita beli. Terus sewa lahan yang kita tempati, kan mahal juga kalau bayar. Itu tidak sepenuhnya dihitung secara matematis. Temen-temen yang bekerja, dari luar daerah, datang dengan transportasi sendiri, menginap di sini. Kita tidak pernah bicara, berapa yang mesti kita kasih,” ungkapnya.

Kendala Petani Garam

Eggy merasa bahwa sektor tambak garam di Desa Dasun, tidak sekadar menjadi sebuah komoditi, namun sudah menjelma sebagai sarana untuk mengekspresikan sesuatu.

“Sok-sokannya begitu ya, tapi memang benar, masyarakat di sini kalau tidak kompak, mana mungkin bisa menyelenggarakan Festival Garam yang mampu menyedot banyak orang untuk datang ke sini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kades Dasun, Sujarwo mengungkapkan lukisan garam masih akan dipertahankan sampai hari Kamis (22 Oktober 2026), meski Festival Garam sendiri sudah selesai pada hari Minggu (18/10).

Ia menyebut beberapa persoalan petani garam yang perlu perhatian pemerintah, misalnya pendangkalan muara sungai, mengakibatkan air laut sulit dialirkan ke tambak.

“Seakan-akan masalah ini dibiarkan oleh pemerintah. Padahal menjadi urat nadi produksi garam,” ujarnya.

Sujarwo juga menyoroti potensi anak-anak muda menjadi petani garam semakin minim belakangan ini.

“Rembang dikenal sebagai kota garam, semoga ini menjadi bahan refleksi untuk kita semua, jangan sampai hilang begitu saja, karena tidak ada regenerasi,” kata Kades. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.