Berulang Kali Pengendara Motor Terperosok, Begini Tanggapan Pemkab Rembang Soal Kota Pusaka Lasem
Besi penutup saluran, hilang diduga dicuri. Lokasi kawasan Kota Pusaka Lasem, turut tanah Desa Karangturi Kecamatan Lasem.
Besi penutup saluran, hilang diduga dicuri. Lokasi kawasan Kota Pusaka Lasem, turut tanah Desa Karangturi Kecamatan Lasem.

Lasem – Cukup banyak besi penutup saluran pembuangan air di kawasan Kota Pusaka Lasem hilang, diduga menjadi sasaran pencurian.

Kondisi tersebut mengakibatkan berulang kali pengendara sepeda motor terjatuh, sehingga untuk sementara lubang saluran yang terbuka menganga, terpaksa ditutup menggunakan sampah plastik, agar tidak membahayakan pengguna jalan.

Ulama yang tinggal di Pondok Pesantren Kauman, KH. Zaim Ahmad Maksum menjelaskan besi penutup saluran gorong-gorong terlihat dirusak dulu, kemudian baru diambil.

“Ndak tahu siapa pelakunya mas. Yang jelas pengendara motor terperosok lubang, sudah berkali-kali. Saya tanya ke petugas keamanan pondok, mungkin sampai 6 kali atau berapa gitu,” ungkapnya.

Pencurian terjadi, salah satunya karena situasi di sekitar lokasi gelap, akibat banyak lampu penerangan jalan mati.

Bahkan pihak Pondok Pesantren sempat berinisiatif mengganti lampu-lampu yang padam, lantaran lama tak kunjung diperbaiki.

“Soalnya situasi gelap, banyak lampu mati. Harusnya kan memang menjadi tanggung jawab pemerintah. Tapi semua juga butuh kesadaran dari warga sendiri,” imbuh ulama yang akrab disapa Gus Zaim ini.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, Senin siang (06 Juli 2026) membenarkan lokasi Kota Pusaka Lasem di Kauman Karangturi menjadi tanggung jawab instansinya.

“Pembagiannya jelas mas, untuk Pasar Kreatif di Indagkop, Alun-Alun di Dinas Lingkungan Hidup, untuk jalan tanggung jawab PU, lha yang Kauman Karangturi itu jadi tanggung jawab Dinbudpar,” terangnya.

Isti mengakui kerusakan fasilitas umum belum ditangani, karena sampai saat ini belum ada anggaran perbaikan.

“Sampai saat ini, Dinbudpar belum ada anggaran (perbaikan),” ujar Isti.

Isti menambahkan sebenarnya kawasan tersebut bisa dikelola oleh Pemerintah Desa Karangturi sebagai destinasi wisata, melalui mekanisme hibah dari Pemkab.

Ia menilai hal itu lebih baik, karena di Desa Karangturi sudah ada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Pihaknya sedang berkomunikasi dengan Pemdes Karangturi. Kalau mereka siap mengelola, diharapkan lokasi tersebut bisa lebih terawat.

“Kalau saya, cenderung dihibahkan saja ke pihak desa. Ketika sudah ada Pokdarwis, lebih baik dikelola oleh desa, biar lebih maju. Ya kita tunggu saja, bagaimana hasilnya. Kalau memang diminta oleh desa, bisa dihibahkan,” tandasnya.

Isti Choma Wati menambahkan jika nantinya dari hasil komunikasi dengan Desa Karangturi, ternyata mereka tidak berminat mengelola, baru akan diupayakan penanganan lebih lanjut.

“Kalau desa tidak berminat, ya nanti kita usulkan biaya perawatan ke Pemkab. Tapi kalau saya, lebih senang dihibahkan dan dikelola desa,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.