
Rembang – Sejumlah pedagang di Pasar Kota Rembang mengaku semakin mengalami penurunan omset jualan. Bahkan cukup banyak kios yang ditutup.
Sri Ambari, salah satu pedagang pakaian mengakui pedagang yang kontrak kios, ketika penghasilan terus menurun, akhirnya memilih tidak berjualan lagi.
“Kondisi pasar lagi sepi, yang kontrak nggak dilanjutkan. Banget sepine pasare,” tuturnya.
Ia membandingkan dulu sebelum wabah Corona, mencari penghasilan Rp 2-3 Juta per hari, relatif mudah. Tapi setelah pasar online menjamur, omset penjualan Rp 500 Ribu per hari saja, sudah sangat sulit.
Kondisi itu juga diperparah oleh penurunan daya beli masyarakat, lantaran sektor kelautan juga terpukul oleh banyaknya nelayan tidak melaut, akibat harga solar non subsidi semakin mahal.
“Nelayan kalau ramai, pasar ikut ramai mas. Sebaliknya, ketika nelayan nggak melaut, ya pasar ikut sepi. Saling mempengaruhi soalnya,” imbuh pedagang dari Desa Tritunggal, Rembang ini.
Pedagang sandal dan sepatu, Priyanto menuturkan pada hari-hari biasa, los di sekitarnya memang sepi.
Ia mengandalkan hari Minggu dan masa menjelang tahun ajaran baru, diharapkan bisa meningkat.
Soal banyaknya kios tutup, menurut pria warga Desa Ngadem ini, bisa jadi pedagang sudah menyerah.
“Lha gimana pemasukan nggak ada, pengeluaran jalan terus. Kalau diterus-teruskan malah rugi. Nggak sebanding,” ungkapnya.
Saat ditanya apakah ikut berjualan secara online, Priyanto menjawab tidak bisa, karena termasuk kategori pedagang tempo doeloe.
“Ya jualan di lapak sini saja, istiqomah. Bisa bertahan saja sudah bagus. Nggak bisa online-nan, nggak bisa mencet-mencet. Pedagang lawas mas,” kata Priyanto terkekeh.
Pendapat masyarakat pun beragam. Ada yang berpendapat pasar online semakin diminati masyarakat, karena lebih praktis.
“Kita tinggal nunggu, barang sudah diantar,” ujar Ana Aisya.
“Pasar Rembang itu, ramainya di luar pasar mas,” beber Supriyaningsih.
Ada pula alasan bingung menawar, kalau datang ke pasar.
“Aku ke pasar itu males nawarnya,” kata Mama Hesty.
Tapi ada juga yang mengungkap bahwa perekonomian sedang sulit, sehingga daya beli masyarakat ikut menurun.
“Duwite langka pak,” keluh Mamahe Gilang.
“Maklum lur, krisis,” timpal Sukran.
Warga lain menyarankan pemerintah membantu kampanye belanja di pasar tradisional melalui gerakan secara masif, sehingga dapat menjadi salah satu solusi meringankan beban pedagang. (Musyafa Musa).

