
Rembang – Tingginya intensitas curah hujan, beberapa hari terakhir ini, berdampak pada banyaknya siswa tidak masuk sekolah.
Selain kendala hujan ketika berangkat sekolah, kondisi cuaca semacam ini juga mengakibatkan siswa mudah sakit.
Nur Khanifah, guru kelas IV SD N Karangturi Kecamatan Lasem mencontohkan saat hari Rabu kemarin, hanya ada 1 siswanya yang masuk sekolah.
“Kebetulan siswa saya hanya 6 anak, kemarin yang masuk hanya 1 anak. Yang lain izin tidak masuk, karena sakit. Rata-rata keluhan badan panas (demam). Kalau hari Kamis ini, 1 siswa tidak masuk,” terangnya.
Sementara itu di SD N 2 Jatihadi Kecamatan Sumber, mayoritas siswa tetap masuk sekolah, meski dari Kamis dini hari turun hujan gerimis.
Kepala SD N 2 Jatihadi, Rismanto mengatakan kebetulan lokasi rumah anak-anak dengan sekolah berdekatan, sehingga kondisi cuaca tidak terlalu menjadi halangan.
“Masih banyak yang masuk mas, soalnya antara rumah dan sekolah dekat,” ungkapnya.
Rismanto mengamati ketika dirinya berangkat kerja, yang membuatnya prihatin justru banyak jalan rusak berlubang, sehingga membahayakan siswa sekolah jenjang SMP dan SMA yang berangkat dengan naik sepeda motor.
“Di Kecamatan Sumber kan banyak mas, siswa berangkat pulang sekolah naik motor. Kondisi jalannya banyak lubang tertutup air. Takutnya pada ngebut, kemudian jatuh akibat jalan rusak. Makanya harus lebih hati-hati di tengah situasi cuaca seperti ini,” kata Rismanto.
BMKG meramalkan kondisi cuaca ekstrim seperti ini masih akan terjadi sampai tanggal 19 Januari 2026.
Penyebabnya, suhu muka laut relatif hangat di sebagian perairan Indonesia, menambah pasokan uap air hujan.
Selain itu, adanya pertemuan angin di wilayah Jawa Tengah meningkatkan pembentukan awan hujan. (Musyafa Musa).

