Catatan Petugas Haji (23) : Kakiyah, Pengkondisian Koper Hingga Ziarah, Menghitung Hari Jelang Kepulangan
Suasana Pasar Kakiyah Makkah. (Foto atas) Petugas haji menjelang kepulangan ke tanah air.
Suasana Pasar Kakiyah Makkah. (Foto atas) Petugas haji menjelang kepulangan ke tanah air.

Makkah – Menjelang hari-hari kepulangan dari Makkah, tugas piket di Sektor Khusus (Seksus) Masjidil Haram pada musim haji tahun 2023, semakin menurun intensitasnya, menyusul banyak jemaah haji yang sudah pulang ke tanah air.

Di sela-sela lepas piket, rekan-rekan sesama petugas haji mulai menyempatkan waktu berbelanja oleh-oleh.

Ada sejumlah lokasi yang dituju. Pertama, Pasar Kakiyah yang kerap dijuluki “Tanah Abang” nya Makkah. Lokasi Pasar Kakiyah berjarak sekira 8 kilo meter dari Masjidil Haram. Umumnya, mereka berangkat secara berombongan dengan naik taxi.

Pasar Kakiyah bentuknya tiga lantai. Mulai dari sajadah, baju gamis, surban, parfum, qurma dan masih banyak lagi barang yang dijual di sini.

Sebagian pedagang di Pasar Kakiyah, sedikit-sedikit bisa berbahasa Indonesia. Misalnya, kalimat mempersilahkan, begitu tahu ada orang Indonesia melintas.

“Mari-mari, lihat-lihat dulu, Indonesia,” teriak salah satu pedagang.

Tapi sebagian rekan kurang tertarik ke Pasar Kakiyah. Mereka lebih memilih berbelanja di sekitar hotel, yang membuka lapak dadakan.

“Yang penting pinter nawar, kalau nggak ya, harganya sama saja dengan harga di ruko-ruko dekat hotel. Ngapain jauh-jauh ke Kakiyah. Tapi kalau sekedar pengin tahu suasana di Kakiyah, ya boleh lah,” ujar seorang rekan menyarankan.

Saya sendiri lebih cocok berbelanja di ruko sekitar Masjidil Haram, karena lebih praktis dan lebih mudah menyesuaikan waktu.

Biasanya setelah piket, saya singgah ke beberapa ruko. Hal itu sudah saya lakukan agak jauh-jauh hari, tidak saat menjelang kepulangan.

“Biar tidak langsung mak breg, nyari semua yang kita butuhkan. Jadi ketika mau pulang, tinggal melengkapi kekurangannya saja,” pikirku waktu itu.

Barang belanjaan yang paling banyak saya bawa seperti sajadah, tasbih, surban dan tas slempang bergambar motif Makkah/Madinah.

Sudah pasti memakan mayoritas space koper, jadi perlu strategi ketika packing. Apalagi bekal pakaian dari Indonesia juga lumayan banyak, sehingga sampai harus ditekan-tekan, digulung atau bahkan ada yang terpaksa ditinggal. Dua koper plus satu tas besar sudah tidak muat.

Tidak hanya saya, ternyata kebingungan pada waktu packing juga dialami rekan-rekan yang lain.

Mereka berulang kali sibuk menimbang bobot koper yang akan ditaruh ke bagasi pesawat, karena otoritas penerbangan membatasi bobot maksimal 32 kilo gram.

Sedangkan tas pungggung atau koper kecil yang bisa masuk kabin pesawat, dibatasi maksimal bobotnya 7 Kg.

Karena alasan itu, kenapa disarankan dari Indonesia sebaiknya membawa pakaian secukupnya saja.

Ziarah Ke Makam Kiai Maimoen Zubair

Setelah packing beres, saya bersama rekan sekamar, berziarah ke makam Kiai Maimoen Zubair, seorang ulama dari Sarang, Rembang yang wafat di tanah suci saat menunaikan ibadah haji tahun 2019 lalu.

Posisi makam beliau berada di Makam Ma’la, salah satu makam tertua di Makkah. Lokasinya cukup dekat dengan Masjidil Haram, bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Berziarah ke makam KH Maimoen Zubair, saat musim haji tahun 2023.
Berziarah ke makam KH Maimoen Zubair, saat musim haji tahun 2023.

Ketika musim haji tahun 2023, kebetulan sedang hangat-hangatnya kabar bahwa jazad Kiai Maimoen Zubair masih utuh, meski sudah 4 tahun berlalu.

Hal itu diketahui dari pekerja yang membongkar makam, lantaran memang ada kebiasaan pemindahan jasad yang sudah lama dimakamkan.

Lantaran masih utuh, jenazah Mbah Moen (sapaan akrab KH Maimoen Zubair) akhirnya tidak jadi dipindah.

“Informasi tersebut dikuatkan oleh kesaksian penjaga makam Ma’la. Alhamdulillah bisa berziarah di sini, sebelum pulang ke Indonesia. Tandanya, di atas makam beliau ada batu kecil bertuliskan KH. Maimoen Zubair,” ujar rekan petugas haji dari Jakarta, Hilman Qurtubi.

Pada tulisan berikutnya, akan saya kisahkan momen Tawaf Wada dan acara perpisahan petugas Seksus Masjidil Haram yang berlangsung dalam  suasana linangan air mata. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan