Dampak Pupuk Kimia Puluhan Tahun Semakin Terasa, Smart Farming Digencarkan
Hamparan sawah di Kabupaten Rembang.
Hamparan sawah di Kabupaten Rembang.

Rembang – Penggunaan pupuk kimia selama puluhan tahun dikhawatirkan memicu kerusakan kualitas lahan pertanian.

Solikin, seorang petani di Desa Polbayem Kecamatan Sumber mengungkapkan 5 atau 10 tahun kedepan kalau kondisi ini dibiarkan, akan berdampak pada sektor pertanian dan lingkungan secara lebih luas.

Ia berharap dinas terkait turun tangan, dengan meningkatkan edukasi serta menggulirkan kebijakan yang lebih ramah lingkungan.

“Hewan-hewan di sekitar kita akan semakin tidak ada, karena penggunaan pupuk kimia berlebihan. Rusaknya lingkungan ditandai kian panasnya cuaca sekarang, padahal dulu sejuk. Hutan mengalami pengrusakan luar biasa, sawah sudah terlalu banyak pupuk kimia,” kata Solikin.

Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto menanggapi pihaknya sudah mulai menggiatkan kampanye smart farming atau pertanian cerdas.

Ia mencontohkan dalam penggunaan pupuk kimia, harus sesuai dengan kebutuhan tanah dan tanaman, bukan mengacu kebiasaan petani. Dinasnya sudah mempunyai alat tester tanah, guna mengukur kebutuhan pupuk.

“Alah biasane semene, dipupuk semene. Nggak seperti itu, tapi diukur pakai tester tanah. Dites dulu, nanti rekomnya keluar, tanah seperti ini butuhnya Urea dan NPK sekian, sehingga kekhawatiran rusak tanah karena pupuk melebihi dosis, bisa dikurangi,” terangnya.

Apalagi di Kabupaten Rembang jumlah ternak banyak, sehingga mampu menghasilkan pupuk organik yang memadai.

“Kalau ini bisa kembali ke tanah kita, insyaallah tidak terlalu tergantung pupuk kimia. Jangan sampai ternaknya di sini, kotorannya dibuang ke daerah lain sudah dalam bentuk pupuk organik. Nanti tanah kita semakin kering dan kurus,” imbuh Agus.

Termasuk penggunaan pestisida kimia harus mulai ditekan, dengan beralih memakai pestisida nabati.

“Pengendalian hama hayati, tidak melalui kimia terus menerus. Mitra-mitra kita di lapangan yang akan mengajari cara pembuatan,” tandasnya.

Lebih lanjut Agus Iwan mendorong supaya jajaran Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di setiap kecamatan lebih aktif bergerak mendampingi petani, sekaligus memberikan contoh-contoh konkret keberhasilan penerapan inovasi teknologi pertanian. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan