Catatan Petugas Haji (10) : Di Lokasi Inilah, Jemaah Haji Kerap Bingung Tak Tahu Arah Jalan Pulang
Aktivitas mengantar jemaah haji yang tidak tahu akses jalan menuju terminal di kawasan Masjidil Haram.
Aktivitas mengantar jemaah haji yang tidak tahu akses jalan menuju terminal di kawasan Masjidil Haram.

Makkah – Seusai sholat lima waktu berjamaah, pelataran Masjidi Haram sudah pasti berubah seperti lautan manusia. Termasuk sholat Subuh sekalipun, jangan ditanya betapa ramainya.

Di momen-momen seperti inilah, beragam kejadian muncul. Pertama, jemaah kehilangan sandal, sehingga terpaksa pulang “nyeker” dan mengakibatkan kakinya melepuh, gara-gara nekat berjalan di atas aspal, usai sholat Dzuhur, saat matahari bersinar terik.

Makanya, petugas haji setiap saat membawa bekal sandal jepit, agar bisa memberikan pertolongan kepada para tamu Allah.

“Pihak Seksus sudah siapkan sandal gratis di pos. Saya bawa sandal dari pos di Terminal Syb Amir 4 pasang, jam segini tinggal sepasang. Alhamdulillah bisa bantu, sekaligus saya sarankan kepada jemaah kalau masuk Masjid, sandalnya dibungkus plastik saja, ndak apa-apa,” ujar Susilowati, seorang petugas haji yang satu tim dengan saya.

Kejadian kedua, banyak jemaah tersesat tidak tahu arah terminal, setelah sholat berjamaah. Apalagi kalau sudah ketinggalan dengan rombongan.

Suasana pelataran Masjidil Haram di depan WC 3, seusai sholat berjamaah.
Suasana pelataran Masjidil Haram di depan WC 3, seusai sholat berjamaah.

Pengalaman saya, ketika bertugas di depan WC 3 Masjidil Haram, menjadi lokasi yang paling sering dijumpai jemaah bingung, pada saat akan balik ke terminal untuk pulang menuju hotel.

Di depan WC 3 ini merupakan titik keluar masuk jemaah teramai, sekaligus persimpangan menuju sejumlah terminal.

Ada 3 terminal bus jemaah Indonesia, masing-masing Syb Amir, Bab Ali dan Jiad. Terminal Syb Amir paling banyak jemaahnya dan jaraknya kebetulan terjauh dari Masjidil Haram.

Kalau jemaah dari Jawa Tengah, semua terkonsentrasi di Terminal Jiad, menjadi yang terdekat dengan Masjidil Haram.

“Pak arah jalan ke terminal Syb Amir mana ya,” tanya jemaah perempuan menghampiri saya, (07 Juni 2023).

Belum sempat dijawab, datang lagi sejumlah jemaah tergopoh-gopoh. “Pak kalau mau ke terminal Bab Ali, arahnya mana, bisa diantar kesana nggak,” ucapnya gelisah.

Ada pula jemaah yang harusnya ke Jiad, justru salah jalan hingga Terminal Syb Amir. Pulang pergi, perkiraan jaraknya 3 kilo meter. Bisa terbayang kan, apabila jemaah Lansia harus jalan kaki.

“Habis sholat, ketinggalan teman. Saya ikut rombongan yang banyak tadi. Saya kira menuju Jiad, eh ternyata malah sampai sini (Syb Amir),” kata jemaah dari Temanggung.

Petugas Haji Harus Mampu Cari Solusi

Jika sudah seperti ini, petugas haji harus bisa mengarahkan dengan sabar atau berinisiatif mengantarkan langsung para jemaah. Maklum, rambu-rambu penunjuk arah menuju terminal memang tidak ada, sehingga mau tidak mau harus menghafal jalan.

“Jangan sampai jemaah yang sudah bingung, malah tambah bingung. Jadi harus kita tenangkan,” kata Suhandoko, seorang petugas haji.

Alternatif lainnya, petugas haji dapat mendeteksi melalui kartu tanda pengenal jemaah haji menggunakan aplikasi Haji Pintar. Cukup scan barcode-nya, akan muncul data-data penting, seperti hotel tempat menginap jemaah, bahkan nomor kontak ketua Kloter yang bisa dihubungi.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya jemaah kalau keluar hotel, wajib selalu membawa tanda pengenal dari Kementerian Agama.

“Kalau ada jemaah terpisah dari rombongan, kita upayakan juga mengontak Ketua Kloter. Misal bisa dijemput ya alhamdulillah, tapi seringnya nggak bisa, makanya petugas haji harus siap-siap membantu. Beberapa kali saya mengantar jemaah langsung ke hotelnya,” cerita Abdul Hamid, petugas haji Seksus Masjidil Haram.

Kepala Seksus Masjidil Haram, Slamet Budiono juga memberikan solusi bagi jemaah yang tersesat, untuk dikumpulkan menjadi satu di pos dekat Terminal Syb Amir. Setelah itu, diantar dengan menggunakan kendaraan Hiace ke hotel masing-masing.

“Tapi ya memang harus sabar menunggu,” ungkapnya.

Ok..Setelah tulisan ini akan saya kisahkan kenapa lantai Masjidil Haram yang tetap dingin, meski cuaca panas terik ?? (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan