Gencar Lakukan Pantauan, Dintanpan Beberkan Kondisi Hewan Kurban Di Rembang
Kepala Dintanpan, Agus Iwan Haswanto saat pengecekan hewan qurban, Rabu (14/06).
Kepala Dintanpan, Agus Iwan Haswanto saat pengecekan hewan qurban, Rabu (14/06).

Kaliori – Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, mulai aktif melakukan pantauan ke tempat – tempat  para pengepul hewan qurban. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan calon hewan kurban yang ada di Kabupaten Rembang aman dari serangan penyakit.

Tim dari Dintanpan Rabu (14/06) siang, melakukan pantauan di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori. Dari beberapa tempat yang dikunjungi, dipastikan calon hewan kurbannya bebas dari penyakit.

Kepala Dintanpan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, yang turut hadir dalam pantauan tersebut mengatakan pihaknya total menerjunkan 4 dokter hewan dan 44 paramedis, untuk melakukan pengecekan calon hewan kurban jelang Idul Adha tahun ini.

“Beberapa waktu yang lalu kita juga terjun ke pasar hewan Pamotan. Kondisinya juga relatif aman,” terangnya.

Agus Iwan memastikan stok hewan kurban di Kabupaten Rembang tahun ini aman. Setiap tahunnya stok sapi berada diangka 800 – 1000 ekor. Sementara kambing dan domba mencapai 3500 – 4000 ekor.

“Kita nggak pernah ada istilah kekurangan stok. Setiap tahun panitia kurban juga nggak kesulitan nyari kok,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu penjual sapi di Desa Gunungsari, Sumijan mengaku stok sapi miliknya sudah berstatus terjual. Ia hanya tinggal menunggu waktu pengiriman sapi ke pembeli sekira H-1 Idul Adha.

“Ini 8 ekor sudah laku semua mas. Saya sudah beli penggantinya. Kalau kandang sudah kosong baru nanti saya ambil sapi yang baru,” ujar Sumijan.

Menurut Sumijan, sapi yang ia jual ada beberapa jenis, seperti simental, limosin dan pegon. Harganya sendiri paling murah Rp 27 juta. Sementara paling mahal mencapai Rp 37 juta.

“Saya belinya dari Bojonegoro, Jatirogo, Tuban. Ada juga yang beli dari Ngulahan,” katanya.

Jual beli sapi sudah menjadi pekerjaan Sumijan sejak tahun 2008. Sebelumnya ia menggeluti usaha mebel, namun kurang berhasil. Saat marak penyakit PMK setahun belakangan, Sumijan sempat merugi hingga Rp 100 juta.

“Ya namanya musibah siapa yang tau. Tapi alhamdulillah masih bisa bangkit lagi,” pungkasnya. (Wahyu Adhi).

News Reporter

Tinggalkan Balasan