Faktor Ini Menjadi Pemicu Terbesar, Bibit Tanaman Bakau Mati
Dua santriwati menunjukkan bibit bakau yang akan ditanam di pinggir pantai utara Desa Pasar Banggi, Rembang, baru-baru ini.
Dua santriwati menunjukkan bibit bakau yang akan ditanam di pinggir pantai utara Desa Pasar Banggi, Rembang, baru-baru ini.

Rembang – Faktor limbah sampah plastik masih menjadi pemicu terbesar, matinya bibit bakau yang ditanam di pesisir pantai utara Kabupaten Rembang.

Rasmin, dari kelompok pembudidaya bakau di Desa Pasar Banggi Rembang mengatakan sampah plastik biasanya menempel pada daun bakau. Setelah itu, tanaman yang tidak kuat akhirnya patah melengkung dan mati.

“Plastik nempel ke daun mangrove (bakau), belum kuat tanaman akhirnya patah, kemudian mati. Mohon partisipasi masyarakat, jangan buang sampah sembarangan, “ tuturnya.

Selain masalah limbah plastik, faktor gangguan hewan laut, seperti tiram yang menempel pada batang tanaman bakau, juga rentan menimbulkan bakau tak berumur panjang.

“Kalau masyarakat sini menyebutnya tritis, bisul nempel di bakau, bisa mematikan, “ imbuh Rasmin.

Belum lagi hantaman ombak besar yang harus diantisipasi. Rasmin mencontohkan di pinggir pantai Dusun Kaliuntu Desa Pasar Banggi pernah dipasangi jaring waring sebagai pelindung tanaman bakau.

Namun cara tersebut tak kuat bertahan lama, karena banyak bambu penyangga jaring yang rusak.

Ia berpendapat pemasangan bis beton akan lebih efektif untuk melindungi tanaman bakau yang masih ukuran kecil.

“Kalau bis beton, air laut sulit masuk. Apalagi kalau dipasangi pelindung berlapis. Menjorok ke laut dikasih beton tetrapod, yang deket tanaman sini dipasangi bis beton, itu malah lebih bagus, “ terangnya.

Menurut Rasmin, musim angin baratan dengan karakter ombak besar dan angin kencang, umumnya terjadi antara bulan November – April, sedangkan musim angin timuran dari bulan Mei hingga Oktober. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan