Strategi Beda, Cara Djarum Melakukan Bedah Rumah Layak Ditiru Perusahaan Lain
Lima warga Desa Sarangmeduro Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, penerima program Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH).
Lima warga Desa Sarangmeduro Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, penerima program Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH).

Sarang – Ada perbedaan mencolok ketika PT Djarum melakukan bedah rumah warga tidak mampu melalui program Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH).

Jika pada umumnya pemerintah maupun perusahaan, hanya memberikan dana stimulan sebesar Rp 17,5 Juta untuk setiap unit rumah, tapi PT Djarum langsung menanggung seluruh biaya bedah rumah, yakni Rp 60 Juta.

Hal itu terlihat pada renovasi total 5 rumah warga Desa Sarangmeduro Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang yang resmi diserahterimakan, Jum’at pagi (02 Desember 2022). Untuk merombak rumah-rumah tersebut, PT Djarum menggelontorkan anggaran Rp 300 Juta.

Deputy General Manager Corporate Communication PT Djarum, Achmad Budiharto menjelaskan semula pihaknya menargetkan ada 10 rumah di Kabupaten Rembang menjadi sasaran program ini. Namun setelah melalui proses verifikasi, hanya ada 5 rumah.

“Kemarin di Pemalang sudah ada 10 rumah, di Kudus baru saja melakukan hal yang sama 10, alhamdulilah sudah selesai. Tadinya penginnya di Rembang 10 rumah juga, tapi data yang disajikan ke kita hanya 3. Kalau 3 sayang deh, mbok jangan 3. Akhirnya dicari-cari dapat 5 rumah. Dua Minggu lagi di Demak ada 10 rumah, “ terangnya.

Achmad Budiharto menambahkan pihaknya tidak menyerahkan dana stimulan Rp 17,5 Juta, sebagaimana program dari pemerintah.

Alasannya, banyak warga penerima bantuan yang justru merasa keberatan, karena harus mencari dana tambahan, untuk memenuhi spesifikasi rumah yang telah ditentukan.

Harapannya memang ada bantuan swadaya masyarakat. Tapi kalau daerah kemiskinan ekstrim, kondisi ekonomi tetangga kanan kirinya, juga tidak jauh berbeda.

“Kalau pakai dana stimulan, penerima malah keberatan, nggak cucuk, “ imbuhnya.

PT Djarum akhirnya memutuskan menanggung seluruh biaya bedah rumah, setiap unit Rp 60 Juta. Ia memastikan rumah dalam kondisi kuat dan memperhatikan unsur kesehatan, termasuk dikeramik lantainya.

“Kita tidak ingin memberatkan masyarakat, semuanya kita tanggung. Tapi konsep gotong royong tetap dijalankan. Saat renovasi, kita berdayakan masyarakat sekitar, “ beber Budiharto.

Sementara itu, Kepala Biro Kesra Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Imam Maskur menyampaikan bersedekah kepada warga miskin, tidak akan membuat melarat. Tapi justru sebaliknya, ia berharap PT Djarum akan semakin tumbuh berkembang.

“Semakin jenengan sedekah kepada orang-orang miskin, insyaallah Djarum akan tambah luar biasa. Cara Djarum ini layak ditiru perusahaan-perusahaan lain, “ tuturnya.

Imam juga mencontohkan pegawai di jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, gajinya langsung dipotong 2,5 % untuk zakat. Setiap bulan terkumpul uang zakat antara Rp 6 – 7 MIliar.

“Setahunnya sekira 60 – 70 Miliar. Apalagi kalau ada pendapatan lain, misalnya ada THR dan gaji ke-13 itu satu bulannya bisa sampai Rp 11 Miliar, “ kata Imam.

Dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrim, Imam menimpali ada sejumlah sektor digarap pemerintah, meliputi air bersih, jambanisasi, listrik dan rumah sehat layak huni.

Lima rumah warga Desa Sarangmeduro Kecamatan Sarang yang dirombak total, masing-masing milik Taslimah, Tasmini, Nanang Abdul Muhid, Kasiyati dan Sanib.

Sanib mengucapkan terima kasih rumahnya yang semula tidak layak huni, sekarang menjadi lebih bagus.

“Terima kasih kepada PT Djarum, rumah saya menjadi lebih bagus, nyaman dan lebih sehat, “ ucapnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *