Dua Perbedaan Mencolok, Pemilu Di Indonesia Dan Amerika!! Salah Satunya Sering Terjadi Di Sini
Rivan Dwiastono, dari VoA menyampaikan paparan tentang perbedaan liputan Pemilu di Amerika dan Indonesia, saat Forum Diskusi Radio (FDR), Sabtu (12/11).
Rivan Dwiastono, dari VoA menyampaikan paparan tentang perbedaan liputan Pemilu di Amerika dan Indonesia, saat Forum Diskusi Radio (FDR), Sabtu (12/11).

Salatiga – Wartawan Voice Of America (VoA), Rivan Dwiastono membeberkan perbedaan paling mencolok Pemilu di Amerika Serikat dan di Indonesia.

Hal itu ia ungkapkan saat Forum Diskusi Radio (FDR) ke-XV di Hotel Laras Asri Salatiga, Sabtu (12/11).

Melalui sambungan zoom, Rivan Dwiastono dari Washington DC mengisahkan pengalamannya liputan Pemilu di Indonesia maupun Amerika.

Perbedaan pertama adalah di Amerika, sangat jarang terjadi serangan fajar bagi-bagi uang (money politics). Berbeda dengan di Indonesia, peristiwa semacam itu sering terjadi, sebagai bahan pemberitaan media massa.

“Kalau di AS, jarang banget saya dengar ada berita serangan fajar. Tapi kalau di Indonesia, hampir selalu ada berita serangan fajar di setiap Pemilu, “ tuturnya.

Rivan menambahkan perbedaan mencolok kedua, mengenai kampanye. Selama kampanye di AS, politisi cenderung lebih bebas bicara dan mengeluarkan pendapat. Bahkan mengeluarkan sindiran-sindiran maupun pernyataan yang menyerang lawan.

“Materi itu dimasukkan ke dalam iklan kampanye, boleh banget. Para jurnalis juga mendapatkan banyak bahan yang lebih nendang, terkait isyu-isyu yang akan dimainkan, “ kata Rivan.

Berbeda dengan di Indonesia, banyak politisi masih Jaim dalam menyampaikan pendapat, ketika musim Pemilu.

“Karena beda budaya dan juga berbeda aturan kebebasan berpendapat, sehingga politisi di sini masih jaim (jaga image-red), “ imbuhnya.

Terlepas dari perbedaan tersebut, ada pula persamaan antara Pemilu di Amerika dan Indonesia. Menurutnya, polarisasi pendukung calon yang sangat meruncing.

“Mau tidak mau, media massa harus mengikuti. Kita di sini tetap ada acuan, standar pemberitaan dan pedoman VoA. Kita juga nggak boleh menyampaikan pendapat pribadi di Media Sosial kita sendiri, tentang keberpihakan pada calon, “ tandas mantan jurnalis Net TV ini.

Sementara itu, pembicara lainnya, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah, Achmad Junaidi mengatakan berdasarkan data yang dikantongi, pelanggaran paling banyak lembaga penyiaran saat Pemilu adalah memutar materi kampanye di luar jadwal. Selain itu, netralitas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL), dikala calon Bupati/Wali Kota incumbent maju lagi.

“Ini yang LPPL susah, ketika incumbent nyalon kembali. Bingung antara diberitakan atau tidak. Tapi saya yakin pada pemilu 2024, lembaga penyiaran akan melaksanakan tugasnya dengan baik, “ ujarnya.

Forum Diskusi Radio (FDR) ini diselenggarakan selama tiga hari, antara tanggal 11 – 13 November 2022. Ratusan orang se Indonesia berkumpul di Salatiga, untuk mendapatkan materi tentang dunia radio.

Kali ini FDR mengambil topik besar, Radio : Biyen And Beyond. Radio dituntut mengikuti perkembangan zaman, agar kedepan tetap mampu eksis. Termasuk melakukan pengembangan media sosial dan bersiap diri menghadapi era radio digital. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *