Melihat Pelajar-Pelajar Tangguh, Antara Sekolah Dan Pentas Emprak
Kepala SMP N II Kaliori, Surami berbincang dengan dua siswanya yang biasa bermain seni Emprak.
Kepala SMP N II Kaliori, Surami berbincang dengan dua siswanya yang biasa bermain seni Emprak.

Kaliori – Sejumlah siswa SMP N II Kaliori mempunyai pekerjaan sambilan sebagai pemain emprak, untuk ikut membantu ekonomi keluarganya.

Seni Emprak adalah seni pentas pertunjukan tradisional. Seni ini erat kaitannya dengan Desa Kuangsan Kecamatan Kaliori. Kebetulan posisi sekolah SMP N II Kaliori yang berada di Desa Gunungsari, berdekatan dengan Desa Kuangsan.

Ahmad Junaedi salah satunya. Remaja warga Desa Kuangsan kelas 9 SMP N II Kaliori ini mengaku sudah hampir 2 tahun terakhir, ikut bermain Emprak. Berawal dari ajakan saudaranya, lama kelamaan terus berlanjut sampai sekarang.

“Semula pas pertama ya grogi, tapi sekarang ndak, sudah terbiasa. Saya tugasnya sebagai penari, “ tuturnya.

Lantaran jadwal manggung tidak menentu, sehingga ia harus pintar-pintar mengatur waktu, supaya kegiatan sekolahnya tidak terganggu.

“Kalau main siang, malamnya belajar. Tapi kalau malam pentas, ya siang sampai sore belajar mas, “ imbuh Junaedi.

Remaja berusia 14 tahun ini sudah melewati susah senang bermain Emprak. Baginya, banyak memberikan pengalaman seni, sekaligus melatih mental. Kedepan ia tak ingin terus bermain Emprak. Namun akan mewujudkan cita-citanya, bekerja di penambangan batubara.

“Kalau main Emprak setidaknya bisa punya uang jajan sendiri, nggak selalu menggantungkan orang tua, “ ucap Junaedi.

Ahmad Junaedi saat persiapan bermain Emprak.
Ahmad Junaedi saat persiapan bermain Emprak.

Sementara itu, Kepala SMP N II Kaliori, Surami membenarkan di sekolahnya terdapat sejumlah pelajar yang aktif tergabung dalam group seni emprak Desa Kuangsan.

“Ada yang pelajar pria dan ada yang wanita. Group empraknya beda-beda kok, “ terangnya.

Surami mempersilahkan para pelajar untuk mengasah bakat. Namun pihaknya juga mengingatkan bahwa tugas sebagai pelajar di sekolah adalah yang paling utama.

“Soalnya main pentasnya jauh-jauh. Seperti Junaedi itu, pernah main ke Semarang. Ia kalau mau pentas pas jam sekolah, izinnya bahkan ke saya langsung, saya mau main bu gitu, “ bebernya.

Surami mengamati anak-anak yang mempunyai bakat di bidang seni, umumnya memiliki cara pandang lebih dewasa.

Sekolah akan terus mendukung potensi tersebut, sebagai sarana pengembangan karakter dan mendidik anak bersikap mandiri.

“Saya kasih contoh Junaedi. Dia juga pintar main gamelan. Di sekolah sering ngajari temen-temennnya yang lain, “ pungkas Surami. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *