Dua Alasan Ini Membuat Nelayan Pencari Rajungan Enggan Melaut, Pengepul Ikut Rasakan Perbedaan Mencolok
Perahu nelayan pencari rajungan ditambatkan di pesisir pantai utara Rembang, Kamis (13/10).
Perahu nelayan pencari rajungan ditambatkan di pesisir pantai utara Rembang, Kamis (13/10).

Sluke – Nelayan tradisional pencari rajungan di pesisir pantai utara Kabupaten Rembang, sebagian besar berhenti melaut.

Alasannya ada dua, yakni harga rajungan masih rendah. Faktor lain, pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sangat memberatkan nelayan kecil, lantaran pengeluaran mereka membengkak. Sebelumnya, harga BBM jenis solar Rp 5.150, menjadi Rp 6.800 per liter.

Abdul Charis, seorang pengepul rajungan di Desa Manggar Kecamatan Sluke mengatakan harga rajungan saat ini Rp 50 ribu per Kg. Dengan harga tersebut, membuat nelayan tidak tertarik melaut. Bahkan banyak yang beralih mencari pekerjaan lain.

“Ada yang pergi ke Surabaya dan keluar Jawa untuk merantau. Ada juga nelayan yang beralih cari ikan mermang atau ganti alat tangkap, tapi merekapun bilang nggak sebanding harganya, “ kata Charis, Kamis (13/10).

Untuk menutup ongkos pengeluaran, ia menghitung idealnya harga minimal rajungan Rp 65 Ribu per Kg. Tapi harga rajungan belum mampu merangkak naik, kemungkinan salah satu sebabnya ulah nakal mencampur komoditas rajungan dengan krekeh dan goto (mirip rajungan-Red), ketika masuk ke pasar ekspor.

“Beberapa waktu lalu, harga rajungan juga sempat jatuh Rp 20 Ribu per Kg, salah satu pemicunya ya karena ada campuran. Ini kan komoditas ekspor ya, jadi kualitas harus dijaga betul, “ tandasnya.

Charis menimpali pada kondisi ramai, pengepul seperti dirinya mampu mendapatkan pasokan rajungan dari nelayan sebanyak hampir 1 ton (1.000 Kg) setiap hari. Tapi sekarang, untuk mendapatkan barang per hari 1 Kwintal saja, sudah sangat sulit.

“Kadang cuma dapat 60 atau 70 Kg saja, kondisi ini beda jauh dibandingkan sebelum kenaikan harga BBM, “ imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Rembang, Sunyoto ketika dikonfirmasi membenarkan kenaikan harga BBM berimbas pada kondisi nelayan.

Ia mencontohkan baru saja menerima kabar dari nelayan pencari rajungan hanya mendapatkan tangkapan 3 ekor, hari ini.

“Dia nyarinya di area pinggir, kalau hasilnya segitu kan minus terus. Padahal untuk menghidupi keluarga, “ kata Sunyoto.

Sunyoto menambahkan nelayan pencari rajungan jarak pendek, sehari menghabiskan solar rata-rata 5 Liter, sedangkan jarak jauh bisa mencapai 20 Liter.

“Harga rajungan ditentukan harga pasar ekspor. Kalau ingin dapat tangkapan lumayan, memang harus berani spekulasi nyari agak ke tengah, “ imbuhnya.

Pihak Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Rembang, hari Kamis ini (13/10) juga mengagendakan rapat koordinasi, untuk membahas inflasi akibat kenaikan harga BBM. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *