Mengenal Galuh Ajeng Lebih Dekat, Eksistensi Seni Tiada Henti!! Kenangan Awal Mula Berdiri
Aktivitas seni budaya di Sanggar Galuh Ajeng Rumbutmalang, Rembang.
Aktivitas seni budaya di Sanggar Galuh Ajeng Rumbutmalang, Rembang.

Rembang – Bagi pegiat seni budaya di Kabupaten Rembang, nama Sanggar Galuh Ajeng terasa tidak asing lagi di telinga mereka.

Saya pun merasa penasaran, bagaimana Galuh Ajeng menjaga eksistensinya di dunia seni budaya, sehingga mampu bertahan sampai sekarang.

Sore itu, saya berbincang dengan Puji Purwati, di Sanggar Galuh Ajeng, sebelah utara Gedung Haji Rumbutmalang, Rembang. Bu Puji, demikian panggilan akrabnya, adalah sosok pendiri Sanggar Galuh Ajeng, sejak tahun 1989 silam.

Ia mengisahkan semula anak sulungnya di TK Bhayangkari mendapatkan tugas menari dari guru di sekolah. Kebetulan banyak anak yang ikut berlatih. Berawal dari itulah, muncul ide untuk membuka sanggar tari.

“Saya bawa anak-anak kecil semua, nah sejak itu mas awalnya, “ kata Bu Puji.

Ia memperinci Galuh berarti puteri, sedangkan Ajeng berarti kemauan, semangat, kehendak. Harapannya, ia bersama puteri-puterinya selalu ada semangat untuk memajukan seni budaya. Secara kebetulan nama Galuh Ajeng, juga sama dengan nama kedua orang puterinya.

“Jadi nama Galuh Ajeng bukan semata-mata nama anak saya. Anak saya kan 4, semua puteri. Seiring perjalanan waktu, saya gathuk-gathukke, lha ternyata kok sama seperti nama anak saya, Galuh dan Ajeng, “ imbuhnya tersenyum.

Aktivitas rutin di Sanggar Galuh Ajeng, biasanya berlangsung pada hari Selasa dan Jum’at. Mulai dari anak PAUD, sampai kalangan orang dewasa.

“Jadi shif-shifan mulai jam 2 siang, hingga sore. Anak-anak kadang kan jenuh dengan tugas-tugas di sekolah. Nah, di sini tempat untuk bebas mengekspresikan kreativitas. Bisa ketemu temen-temennya, guyon, sambil olah roso, olah rogo dan olah jiwo, “ terang Puji.

Puji Purwati menambahkan seni harus selalu berkembang, menyesuaikan minat dan situasi, agar lebih mudah diterima masyarakat.

“Apalagi generasi muda, masuk sanggar, jangan langsung diminta belajar tari klasik, pasti kabur. Biarkan mereka masuk sanggar, seneng dulu. Kalau sudah seneng, mau menggerakkan badan sesuai irama, baru sedikit-sedikit masuk ke tari klasik, “ ucapnya.

Sudah ratusan atau bahkan ribuan anak didiknya yang berhasil digembleng. Termasuk banyak pula yang membuka sanggar seni sendiri. Ia turut merasa bangga, ternyata upayanya memberikan manfaat.

“Alhamdulillah bisa nyawang, eh apa yang kita berikan bisa keterimo, “ ujar mantan Kepala Bidang Kebudayaan Dinbudpar Kabupaten Rembang ini lirih.

Bagi Puji, belajar seni utamanya seni tari, ia tidak selalu menekankan supaya anak didiknya kelak beprofesi sebagai seniman. Tapi yang paling penting adalah membentuk karakter anak melalui seni.

Lewat kehalusan seni, mereka mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk semakin berkembang.

“Kita tidak mewajibkan kamu harus jadi seniman, nggak. Tapi dari seni itulah, ia bisa berkreativitas dan memunculkan potensi dirinya. Anak kalau sudah belajar seni, kompleks kok. Otak kanan, otak kiri, koordinasi seluruh tubuhnya. Itulah seni, “ tandasnya.

Puji menyadari seni budaya yang menjadi warisan leluhur, tantangan kedepan semakin meluas, akibat pengaruh budaya luar. Namun di sisi lain, ia merasa lega, karena masih banyak anak-anak muda yang aktif bergerak, melestarikan seni budaya Jawa.

“Mari sama-sama kita jaga, kita tanamkan cinta seni budaya Jawa sejak dini. Semoga hal itu memberikan pengaruh yang baik untuk karakter anak bangsa, “ pungkas Puji. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *