Kota Pusaka Lasem Bisa Ditata Untuk Tahap Kedua, Tapi Ada Syaratnya
Pasar Kreatif Lasem, diprioritaskan untuk menampung para pedagang yang dulunya menempati lahan sekitar Alun-Alun Lasem. (Foto atas) Reporter R2B, Musyafa Musa menyusuri lorong antara Masjid Jami’ dan Museum Islam Nusantara.
Pasar Kreatif Lasem, diprioritaskan untuk menampung para pedagang yang dulunya menempati lahan sekitar Alun-Alun Lasem. (Foto atas) Reporter R2B, Musyafa Musa menyusuri lorong antara Masjid Jami’ dan Museum Islam Nusantara.

Lasem – Pihak pemerintah pusat berjanji akan melakukan penataan Kota Pusaka Lasem untuk tahap kedua, dengan syarat hasil evaluasi tahap pertama memberikan dampak positif. Tidak hanya mampu mengangkat sejarah Lasem, tetapi juga bermanfaat bagi perekonomian masyarakat.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyatakan hasil komunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, siap melanjutkan penataan tahap kedua. Namun menunggu evaluasi tahap pertama, setelah proyek tersebut dijadwalkan selesai pada akhir bulan Agustus 2022 ini.

“Dari pak Menteri sudah instruksikan akan ada tahap kedua. Tapi nanti dievaluasi dulu kayak apa perjalanannya. Kalau baik, sesuai tujuan, sejarah terangkat dan perekonomian masyarakat terangkat, insyaallah akan ada tahap kedua, “ kata Hafidz.

Maka saat ini Pemkab Rembang sudah menerbitkan pembentukan Panitia Pengelola Kota Pusaka Lasem, sehingga nantinya mereka benar-benar mengawal.

“Panitia Pengelola Kota Pusaka, gabungan dari unsur pemerintah dan masyarakat, agar ini menjadi kolaborasi, untuk Lasem lebih baik. Sudah kita rencanakan anggarannya, “ tandasnya.

Disinggung tentang pedagang kaki lima (PKL), untuk pedagang di kawasan Alun-Alun depan Masjid Jami’ Lasem ditempatkan ke pasar kreatif.

“Masuk ke sana semua, nanti kalau ada lebihnya, baru untuk pedagang dari luar Alun-Alun, “ imbuh Bupati.

Sedangkan lokasi trotoar yang menjadi area Kota Pusaka Lasem, dilarang untuk berjualan atau steril dari pedagang. Tujuannya, ketika Kota Pusaka beroperasi, pengunjung akan lebih nyaman saat jalan-jalan menikmati suasana Lasem.

Saat ini, sudah diberlakukan batas-batas pedagang, dari arah timur, barat maupun selatan.

“Yang timur ditarik sampai MAN sana, yang barat sebelah barat jembatan, yang selatan juga begitu. Jadi trotoar kawasan Kota Pusaka nggak boleh untuk pedagang. Satu dua pedagang sempat ada yang kembali, sudah kita tertibkan. Soalnya desain Kota Pusaka ya orang jalan-jalan, melihat-lihat, kalau trotoar dipakai pedagang kan nggak pas nanti, jadi sempit, “ terangnya.

Khusus ruas jalan dari perempatan lampu pengatur lalu lintas Masjid Jami’ Lasem ke arah Pamotan, kendaraan dilarang berhenti, supaya tidak memicu kemacetan.

Sementara itu, budayawan Lasem, Yon Suprayoga berharap semua lapisan masyarakat Lasem lebih peduli, jika nantinya proyek Kota Pusaka Lasem tahap I selesai.

Hal itu menjadi modal, agar penataan Lasem tahap kedua benar-benar terealisasi.

“Jujur saja kita sangat menantikan penataan lanjutan. Ini butuh peran serta masyarakat, semua pihak. Mari yang sudah ada ini, kita jaga, kita terus promosikan Lasem, perbanyak kegiatan seni budaya, agar semakin dikenal dunia. Tentang keragaman warganya, tentang kerukunan dan juga budayanya, “ ujar Yon. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan