Mulai Kathek Hingga Dumex, Belajar Kesabaran Dari Sosok Mbah Kemis
Merawat ternak sapi yang terkena PMK. (Foto atas) Mbah Kemis (berdiri) mendampingi anaknya yang sedang menyiapkan cairan, untuk disemprotkan pada kaki sapi.
Merawat ternak sapi yang terkena PMK. (Foto atas) Mbah Kemis (berdiri) mendampingi anaknya yang sedang menyiapkan cairan, untuk disemprotkan pada kaki sapi.

Lasem – Sore itu Mbah Kemis, berjalan menuju kandang sapinya di pinggir muara sungai Bagan, turut tanah Dusun Layur Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem.

Meski sudah berusia 90 tahun lebih, namun kakek dengan 12 cucu ini masih tampak sehat semangat merawat 4 ekor ternak sapinya, yang sedang terkena penyakit mulut dan kuku (PMK).

Mbah Kemis tak tahu persis kenapa sapinya tertular PMK, padahal tidak pernah dibawa keluar kampung.

“Tahu-tahu pas pagi saya tengok ke kandang, sudah begini kondisinya, “ ucapnya berbahasa Jawa, Sabtu sore (23/07).

Ditemani anak dan cucunya, Mbah Kemis dengan sabar merawat 4 ekor sapinya. Sapi-sapi tersebut masih kuat berdiri, walaupun di sela-sela kuku kakinya mengalami luka akibat serangan PMK.

Terlebih dahulu luka dibasuh menggunakan air hangat. Tak jarang, sapi sedikit berontak, kemungkinan karena merasakan perih.

“Jadi saya lap kuku-kuku kakinya, karena luka itu berada di cepitan kaki, harus hati-hati. Ini pakai kain dicelupkan air hangat, biar bersih dulu, “ tuturnya.

Setelah itu, Mbah Kemis menyiapkan alat semprot yang di dalamnya berisi cairan alkohol, minyak kayu putih dan serbuk Dumex (obat pengering luka). Selanjutnya, cairan disemprotkan ke bagian kuku kaki yang terluka.

“Biar cepat kering lukanya. Soalnya kalau kaki sampai luka parah, sapi akan ndeprok (nggak kuat berdiri). Sapi-sapi saya, kebetulan tidak ada yang sampai ndeprok, “ imbuh Mbah Kemis.

Tak hanya berhenti sampai di situ saja. Usai fokus menangani bagian kaki, Mbah Kemis kemudian mengalihkan perhatian ke pakan sapi, sebagai asupan gizi ternak.

Ia memilih memanfaatkan kathek atau jagung muda, sebagai pakan sapi. Menurutnya, sudah tak terhitung lagi, habis berapa buah kathek.

“Kathek seringnya beli dari pedagang keliling di pagi hari. Sorenya kita kasihkan. Sapi sendiri ya harus sedikit dipaksa, biar tetap dapat asupan pakan hijau, supaya ada tenaganya, yang penting piya carane sapi ndang sehat, “ bebernya.

Rutinitas yang agak ribet semacam itu, ia lakukan setiap sore, berkat saran-saran dari mantri hewan. Baginya, ketelatenan dan pantang menyerah menjadi kunci utama menghadapi wabah PMK.

“Nggak cuma saya saja, tetangga saya sapinya juga sempat kena, tapi rata-rata sudah sembuh, “ kata Mbah Kemis.

Mbah Kemis sendiri termasuk sosok generasi peternak tradisional yang boleh dibilang sangat setia merawat ternak sapi, meski dirinya tinggal di pinggir pesisir pantai.

Ia menganggap sapi adalah tabungan dan mudah diuangkan, manakala sewaktu-waktu keluarganya membutuhkan.

“Saya sejak muda, sudah seneng merawat sapi pak. Mungkin kalau dari dulu sampai sekarang dikumpulkan, bisa sampai 50 an ekor. Seingat saya, yang mati saja 12 kok. Saya masih tahu harga sapi hanya Rp 250, kini sapi induk betina bisa laku Rp 17 Juta. Khusus PMK ini, nggak ada yang mati, ya bersyukur saja, masih dilindungi sama gusti sing kuoso, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan