Peninggalan Sunan Bonang Bende Becak Dijamas, Wabup Kisahkan Saat Hadir Pertama Kali
Wakil Bupati Rembang, M. Hanies Cholil Barro’ tampak menyaksikan proses penjamasan Bende Becak, Minggu (10/07).
Wakil Bupati Rembang, M. Hanies Cholil Barro’ tampak menyaksikan proses penjamasan Bende Becak, Minggu (10/07).

Lasem – Tradisi penjamasan Bende Becak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, kembali berlangsung, Minggu pagi (10 Juli 2022).

Bende Becak, berbentuk gong kecil yang dipercaya sebagai peninggalan Sunan Bonang tersebut, rutin dijamas setiap Hari Raya Idul Adha. Air bekas mencuci Bende Becak, kemudian diperebutkan oleh ratusan pengunjung yang hadir dari berbagai daerah.

Wakil Bupati Rembang, M. Hanies Cholil Barro’ yang hadir dalam kegiatan tersebut menuturkan tradisi penjamasan Bende Becak tak sekedar mengingatkan kembali kisah Sunan Bonang kala itu, dalam menyebarkan agama Islam di Desa Bonang.

Tapi sekaligus menjadi simbol keragaman budaya di Kabupaten Rembang yang harus tetap dilestarikan.

“Saya kebetulan baru kali pertama ini hadir di penjamasan Bende Becak, mewakili pak Bupati. Tradisi-tradisi peninggalan Sunan Bonang yang menjadi syiar agama terus tumbuh sampai sekarang, harus dijaga, “ tuturnya.

Wakil Bupati yang akrab disapa Gus Hanies ini menambahkan masyarakat yang menunggu air bekas penjamasan di depan kediaman juru kunci Sunan Bonang, cukup ramai.

“Mungkin karena pandemi sudah melandai ya, selama 2 tahun kemarin dilakukan tertutup, jadi masyarakat seperti sudah kangen, “ imbuh Gus Hanies.

Air bekas penyucian Bende Becak, konon bisa membuat awet muda dan menyembuhkan penyakit, menurutnya semua mesti dikembalikan pada kuasa Tuhan Allah SWT.

“Saya berada di sebelah genthong untuk penjamasan, saya ikut mendistribusikan air ke warga tadi. Yang penting jangan menjurus ke syirik, karena yang menyembuhkan tetap Allah SWT, “ tandasnya.

Menurut riwayat sejarah, Bende Becak adalah jelmaan utusan Raja Majapahit, bernama Becak.

Sunan Bonang sempat meminta Raja Majapahit, Brawijaya V untuk memeluk agama Islam. Namun sang raja menolak, dengan mengirimkan surat yang dibawa oleh Becak. Seusai menyerahkan surat kepada Sunan Bonang, Becak menyanyikan tembang-tembang di depan kediaman Sunan Bonang. Hal itu mengganggu Sunan Bonang yang sedang mengaji bersama para santrinya.

Sunan Bonang menanyakan suara siapa, para santri menjawab suara Becak. Namun Sunan Bonang menjawab suara bende (gong). Begitu santri datang mengecek, Becak sudah tidak ada dan berubah menjadi gong. (Musyafa Musa).

News Reporter

3 thoughts on “Peninggalan Sunan Bonang Bende Becak Dijamas, Wabup Kisahkan Saat Hadir Pertama Kali

  1. Tradisi panjemasan Bende Becak kembali diselenggarakan di Desa Bonang, Kecamatan Lasem pada Minggu pagi 10 Juli 2022. Tradisi Panjemasan Bende Becak menjadi simbol keragaman budaya di Kabupaten Rembang yang harus tetap dilestarikan.

  2. kegiatan tersebut menuturkan tradisi penjamasan Bende Becak tak sekedar mengingatkan kembali kisah Sunan Bonang kala itu, dalam menyebarkan agama Islam di Desa Bonang.
    Tapi sekaligus menjadi simbol keragaman budaya di Kabupaten Rembang yang harus tetap dilestarikan.
    radisi-tradisi peninggalan Sunan Bonang yang menjadi syiar agama terus tumbuh sampai sekarang, harus dijaga

  3. Tradisi ini harus dilestarikan karena ada banyak sejarah yang ada dalam acara tersebut. Hal itu juga bisa menjalin hubungan silahturahmi antar sesama manusia. Budaya ini harus dikembangkan karena untuk menghargai perjuangan arah kaum wali Songo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *