Tantangan 30 Detik Yang Membuat Siswa Terpompa Daya Kreativitasnya
Wartawan detik.com Muhammad Fadlil dan wartawan iNews TV Musyafa (atas) memberikan materi “Kelas Jurnalistik” di SMA N I Sale, Kamis (09/06).
Wartawan detik.com Muhammad Fadlil dan wartawan iNews TV Musyafa (atas) memberikan materi “Kelas Jurnalistik” di SMA N I Sale, Kamis (09/06).

Sale – 60 an pelajar SMA N I Sale mendapatkan tantangan menarik, ketika mereka mengikuti “Kelas Jurnalistik” yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang, hari Kamis (09 Juni 2022).

Ketua PWI Kabupaten Rembang, Musyafa menjelaskan setelah peserta belajar cara cepat menulis berita yang dipaparkan Muhammad Fadlil (wartawan detik.com), dirinya melanjutkan dengan materi produksi video dan media sosial.

Di akhir pelatihan, ia sengaja memberikan waktu hanya setengah jam untuk produksi dan editing video berdurasi 30 detik mengangkat lingkungan sekitar SMA N I Sale, agar peserta “Kelas Jurnalistik” mengenal tekanan dead line, memompa daya kreativitas dan daya juang mengeksekusi sebuah topik.

“Tadi sempat muncul pertanyaan dari sejumlah pelajar, 30 detik apa nggak terlalu pendek pak ? Memang untuk menyampaikan pesan melalui video berdurasi 30 detik, dibatasi waktu hanya setengah jam, ini tantangan sesungguhnya. Saya pengin tahu sejauh mana, mereka punya ide dan kreasi, “ kata Musyafa.

Salah satu siswa SMA N I Sale peserta Kelas Jurnalistik, Solihul Muhtadin mengaku membuat video pendek dengan pesan harus mudah dipahami, ternyata sangat menantang.

“Kalau video panjang mungkin akan lebih leluasa ya, ini cuman 30 detik, dibatasi waktu setengah jam pula. Bener-bener lumayan berkeringat. Meski kita sempat kesusahan, tapi alhamdulilah berhasil, “ tutur remaja warga Desa Gading Kecamatan Sale ini.

60 peserta yang dibagi dalam 6 kelompok, akhirnya menampilkan karya video masing-masing. Saat evaluasi, disimpulkan bahwa siswa SMA N I Sale mampu cepat beradaptasi.

Terbukti, video 30 detik yang ditayangkan melalui layar proyektor, mampu mengundang daya tarik pemateri, karena terselip kekuatan pesan.

“Luar biasa, saya nggak menyangka lho bisa sebagus dan sekeren ini, ayo jangan lupa diupdate ke media sosial masing-masing ya, “ imbuh Musyafa mengomentari sebuah video bertopik jangan membuang sampah sembarangan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala SMA N I Sale, Juhartutik mengatakan pelajar maupun sekolah sudah memiliki media sosial, namun belum digarap secara maksimal.

Ia menilai dengan adanya pelatihan “Kelas Jurnalistik” akan semakin meningkatkan semangat dalam mempromosikan kegiatan di SMA N I Sale.

“Selama ini kan mereka belajar autodidak ya, jadi lewat Kelas Jurnalistik ini kita bisa upgrade pengetahuan. Tujuannya, kegiatan sekolah bisa tersiarkan dan tersosialisasikan dengan baik. Makanya kita perlu lebih fokus lagi, “ terangnya.

Juhartutik juga berharap nantinya jalinan kerja sama antara SMA N I Sale dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), bisa dikemas secara berkelanjutan.

“Kita ingin budaya menulis dan membaca di kalangan pelajar, tidak semakin luntur. Tapi justru sebaliknya, di era digital ini akan bisa didorong terus, “ pungkas wanita asal Lasem tersebut. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *