Air Embung Tak Boleh Diambil, Masa Tanam I Gagal Panen!! Bupati : “Fungsinya Beda-Beda Pak…”
Perpaduan antara Embung Rowo Setro, pabrik sepatu dan lahan pertanian di sebelah selatan pabrik.
Perpaduan antara Embung Rowo Setro, pabrik sepatu dan lahan pertanian di sebelah selatan pabrik.

Rembang – Pihak Desa Sridadi Rembang mempertanyakan kenapa petani dilarang menyedot air dari Embung Rowosetro, padahal lahan pertanian di belakang pabrik sepatu yang berhimpitan dengan embung, sempat mengalami kekeringan dan gagal panen ketika masa tanam pertama.

Nasuha, Kepala Desa Sridadi mengatakan beberapa kali mengusulkan kepada manajemen pabrik sepatu maupun Pemkab Rembang, untuk membangun embung di sebelah selatan pabrik sepatu.

“Namun 2 tahun berjalan, kabarpun nggak ada, sampai sekarang belum terealisasi, “ tuturnya.

Saat musim tanam pertama lalu, menurutnya curah hujan masih minim. Kondisi itu mengakibatkan tanaman padi gagal panen.

“Kalau tidak percaya, bisa menugaskan Dinas Pertanian untuk kroscek langsung. Bagi kami ini sangat-sangat penting, karena menyangkut hajat hidup orang banyak, khususnya para petani, “ imbuh Nasuha dalam sebuah forum di Pendopo Kantor Kecamatan Rembang Kota, belum lama ini.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz membenarkan curah hujan meningkat, baru belakangan ini saja. Tapi selama periode Januari – Februari sangat minim, sehingga berdampak pada lahan persawahan di sejumlah kecamatan.

“Pamotan, Lasem sampai Sarang banyak yang gagal. Kulo duwe ning Pragen rong hektar, gagal kok pak, “ ujarnya.

Terkait larangan mengambil air dari Embung Rowosetro, Bupati mengingatkan bahwa embung tersebut bukan kewenangan Pemkab Rembang. Melainkan ditangani Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.

BBWS Pemali Juana tidak membolehkan pengambilan air, karena fungsinya bukan untuk itu. Ia mengingatkan keberadaan embung mengemban fungsi beragam, sehingga perlu dipahami masyarakat.

“Beda-beda pak, ada yang untuk pertanian, ada yang untuk air baku dan ada pula yang kombinasi, air baku dan pertanian. Semua data yang pegang BBWS, “ terang Hafidz.

Jika ada pengajuan izin dari masyarakat akan menyedot air, Bupati sebatas meneruskan kepada BBWS Pemali Juana.

“Pemkab tidak punya kewenangan apapun, jadi kalau ada pengajuan dari masyarakat saya teruskan ke BBWS, mohon diizinkan. Sama seperti Embung Lodan, Embung Panohan maupun Grawan, seperti itu pak, “ paparnya.

Selain mengandalkan hujan, Bupati menyarankan mencari alternatif cara lain, termasuk memperbanyak sumur dangkal untuk pengairan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan