Bupati : “Angger Diangkruki Dewe, Jupuk Neh Wae…”
Bantuan alat mesin pertanian.
Bantuan alat mesin pertanian. (Foto atas) Lahan pertanian di Kab. Rembang.

Rembang – Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengarahkan apabila ada bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) yang dikuasai sendiri oleh oknum-oknum kelompok tani, lebih baik bantuan ditarik lagi saja.

Bupati beralasan bantuan semacam itu untuk kepentingan seluruh anggota kelompok tani, bukan hanya untuk satu dua orang.

“Jupuk neh, angger diangkruki dewe (ambil lagi, kalau dikuasai sendiri-Red), jupuk neh wae. Soalnya pembangunan ini biar merata, tidak hanya dinikmati satu dua orang, “ ungkapnya.

Apalagi kalau bantuan Alsintan sampai dijual, menurutnya sudah menjadi urusan polisi yang akan turun tangan.

“Kita evaluasi terus, kalau dijual tak laporno polisi. Nek diangkruki dewe, tak laporno dinas. Kenapa yang mengajukan harus kelompok tani, karena memang keberadaan alat-alat ini untuk kepentingan kelompok, “ beber Bupati.

Tiap tahun, Pemkab Rembang rata-rata menyalurkan bantuan antara 300 – 400 unit Alsintan. Ia menegaskan dari pemerintah tidak memathok bayaran alias gratis.

“Kalau sampai terjadi bayar membayar, opo meneh sing mbayar ketuane, alate yo dipek ketuane, anggotane ora diwenehi manfaat. Padahal sekali lagi, tujuan pemerintah bukan untuk perorangan, tapi kelompok, “ tandasnya.

Menurut Abdul Hafidz, Pemerintah Kabupaten Rembang memprioritaskan perhatian terhadap sektor pertanian, karena sektor tersebut menyumbangkan produk domestik regional bruto (PDRB) hingga 25 % bagi Kabupaten Rembang.

(PDRB merupakan salah satu indikator penting, guna mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah, dalam periode tertentu-Red).

“Pertanian prioritas pertama, karena sektor ini yang memberikan kontribusi terhadap PDRB sangat signifikan. 25 % PDRB kita disokong dari pertanian, maka pertanian menjadi ladang subur kita yang akan kita pupuk terus. Jangan kita abaikan, “ terangnya.

Selain alat mesin pertanian, kepala daerah asli Dusun Mudal Desa Pamotan Kecamatan Pamotan ini juga menyebut soal sarana pengairan. Ia membuka pintu lebar-lebar, jika di suatu kawasan, ada sumber air, segera diajukan proposalnya, untuk mendapatkan bantuan pembuatan sumur dangkal.

Minimal bisa membantu siram-siram tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air.

“Bisa untuk siram-siram lombok, terong. Pokoknya asal ada sumber airnya, saya minta agar diusulkan dan pasti akan kita penuhi pembuatan sumur dangkal, “ pungkas Bupati kelahiran 18 Juni 1962 ini atau akan genap berusia 60 tahun.

Bupati selanjutnya meminta kepada para kepala desa, meneruskan informasi tersebut kepada kelompok tani, agar bisa ditindaklanjuti melalui pemetaan lokasi yang cocok. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan