PWI n Friends Hadapi Kuangsan FC, Laga Penuh Makna
Tim PWI n Friends (putih/biru) foto bareng dengan Kuangsan FC (merah/hitam), sebelum pertandingan persahabatan, Selasa sore (28/12).
Tim PWI n Friends (putih/biru) foto bareng dengan Kuangsan FC (merah/hitam), sebelum pertandingan persahabatan, Selasa sore (28/12).

Kaliori – Pertandingan sepak bola persahabatan antara tim PWI n Friends melawan Kuangsan FC Kec. Kaliori di Kuangsan Stadium, Selasa sore (28 Desember 2021), berakhir dengan skor kaca mata 0 – 0.

Sepanjang pertandingan, kedua tim melakukan jual beli serangan. Tim PWI n Friends yang mengandalkan duet striker Tino, Andreas dan Anjis mendapatkan sejumlah peluang, namun gagal berbuah gol. Rapatnya barisan pertahanan Kuangsan FC, sulit ditembus.

Begitu pula Kuangsan FC yang membangun serangan dari lini tengah dan sayap, mereka cukup banyak memperoleh peluang matang, terutama di babak kedua. Bahkan berulang kali, striker Kuangsan FC sudah berhadap-hadapan dengan kiper PWI n Friends, M. Kurniawan.

Namun lemahnya penyelesaian akhir, membuat tidak ada satupun gol yang tercipta. Saat wasit meniupkan peluit panjang, skor masih tetap 0 – 0.

Usai pertandingan, Miftachussolihin, bek PWI n Friends mengakui pertandingan melawan Kuangsan FC menjadi laga berharga penuh makna, karena semakin mengetahui kelemahan timnya.

“Misal suplay bola dari lini tengah ke depan perlu diperbaiki. Lini depan juga harus diperkuat, dengan variasi serangan, “ ungkapnya.

Di sisi lain, squad PWI n Friends juga mendapatkan pengalaman menarik, bisa merasakan kualitas lapangan Kuangsan Stadium yang sangat bagus.

“Ukuran standar. Rumputnya empuk, rata, apalagi cuaca mendukung, jadi enak mainnya, “ imbuh wartawan RRI ini.

Sementara itu, Sukirno, tokoh warga Desa Kuangsan Kecamatan Kaliori menilai permainan PWI n Friends di luar dugaan.

“Wartawan jarang latihan, ternyata bisa mengimbangi tim kami. Lain waktu layak diagendakan tanding lagi, “ ujarnya terkekeh.

Sukirno menimpali penataan lapangan Kuangsan memang menjadi skala prioritas. Bahkan menghabiskan anggaran sekira Rp 400 an Juta.

“Dananya dari berbagai sumber, termasuk swadaya masyarakat. Waktu itu kita uruk lagi, sampai habis 200 an rit tanah, “ terangnya.

Selain untuk pembinaan sepak bola di Desa Kuangsan, lapangan tersebut juga biasa disewa oleh tim-tim lain dari luar desa.

“Kontribusi sewanya sekali main Rp 150 Ribu mas, “ pungkas Sukirno menyudahi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *