Demo Protes Seleksi Perangkat Desa : “Semula Nilai 0, Setelah Ditanyakan Jadi 16…”
Peserta seleksi perangkat desa yang tidak lolos menggelar aksi demo di halaman kantor Kecamatan Lasem, Senin (22/11).
Peserta seleksi perangkat desa yang tidak lolos menggelar aksi demo di halaman kantor Kecamatan Lasem, Senin (22/11).

Lasem – Puluhan orang peserta seleksi perangkat desa yang mengatasnamakan Forum Millenial Kecamatan Lasem, Senin pagi (22 November 2021) mendatangi Kantor Kecamatan Lasem, memprotes proses seleksi yang diduga terdapat sejumlah kejanggalan.

Mereka membawa beragam poster tuntutan, saat aksi di halaman Kantor Kecamatan Lasem.

Koordinator aksi, Muhlisin menyatakan pihaknya menolak hasil seleksi perangkat desa tahun 2021. Alasannya, nilai antara peserta yang jadi perangkat desa dengan peserta yang tidak lolos, ketimpangannya terlalu jauh. Ia menganggap kondisi tersebut tidak wajar.

“Kami sudah kirimkan surat aduan tentang nilai tidak wajar kepada BPD, Kades dan Kecamatan. Karena nggak ada tanggapan, makanya kita menggelar aksi, “ ujarnya.

Karena pihak ketiga yang menangani tes seleksi perangkat desa adalah Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Semarang, ia mendesak nantinya UNW juga turut dihadirkan dalam audiensi di gedung DPRD.

“Kami sudah sampaikan masalah ini kepada DPRD. Semoga UNW mau hadir dan kita buka semua di sana, termasuk kejanggalan dalam tes, “ tandasnya.

Muhlisin yang merupakan peserta seleksi perangkat desa di Desa Jolotundo, Kecamatan Lasem ini menyoroti berdasarkan perjanjian kerja sama antara UNW Semarang dengan pihak desa, tes tertulis digelar secara CAT (computer assisted test), tapi pada kenyataannya menggunakan CBT (computer based test).

Meski sama-sama memakai komputer, namun Muhlisin menuding CBT merupakan sistem online lokal yang bisa dikendalikan oleh admin. Kecurigaan muncul, saat ada peserta tes nilainya 0. Begitu bertanya kepada pegawai UNW, kemudian nilai baru disampaikan, yang semula 0 menjadi 16.

“Di MoU bunyinya CAT, tapi di sana kita ujiannya CBT, kan sudah beda. Menurut kami ini melanggar Perbup, “ imbuh Muhlisin.

Menanggapi persoalan tersebut, Pelaksana Tugas Camat Lasem, M. Mahfudz menyatakan aspirasi semacam itu wajar, di tengah iklim demokrasi. Namun tahapan seleksi hingga pelantikan, tetap akan berjalan sesuai rencana.

Setelah panitia seleksi perangkat desa menyampaikan hasil kepada kepala desa, nantinya kepala desa mengajukan peserta yang lolos kepada pihak kecamatan.

“Begitu berkas kami terima, maka akan kami proses, sepanjang sudah sesuai. Saat ini kami masih menunggu berkas pengajuan dari desa, “ terangnya.

Mahfudz menambahkan Kecamatan Lasem sebagai pengawas seleksi perangkat desa, sejauh ini tidak menemukan pelanggaran maupun penyalahgunaan kewenangan.

Soal tudingan-tudingan dari peserta yang tidak lolos, menurutnya masih pada taraf asumsi atau kecurigaan, sehingga kalau asumsi sulit dijadikan pedoman untuk menghentikan proses.

“Kami tidak temukan pelanggaran sampai dengan saat ini. Yang disampaikan peserta aksi tadi masih tataran asumsi. Kalau asumsi, sulit dijadikan pedoman untuk menghentikan proses, “ imbuh Mahfudz.

Usai menggelar demo di Kantor Kecamatan Lasem, perwakilan peserta seleksi perangkat desa selanjutnya datang ke DPRD, guna menanyakan kepastian jadwal audiensi.

Sebelumnya, dari total 20 desa di Kecamatan Lasem, yang saat ini membuka seleksi perangkat desa sebanyak 16 desa. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *