Optimalkan Potensi Air, Kades Pamotan Siapkan Gebrakan Di Tahun 2022
Kepala Desa Pamotan, A. Maskhur Rukhani. (Foto atas) Suasana Desa Pamotan dilihat dari sisi barat.
Kepala Desa Pamotan, A. Maskhur Rukhani. (Foto atas) Suasana Desa Pamotan dilihat dari sisi barat.

Pamotan – Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan merupakan desa terbanyak jumlah penduduknya di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Jumlah warga 10 ribuan jiwa, sedangkan wilayahnya juga sangat luas. RT ada 42, tersebar di 13 RW.

Kepala Desa Pamotan, A. Maskhur Rukhani, membeberkan kampung di desanya beragam. Mulai Tajen, Karangantik, Palan, Mudal, Sumberan, Tegalrejo, kemudian Candisari, Glanggang, Gendongan, Sambikalung, Cikalan, Magersari, Kauman. Selanjutnya, Ngasinan, Ndalor, Karangtengah, Karangasri dan Sridadi.

Mantan anggota DPRD Rembang ini mengaku posisi Kepala Desa sungguh jauh berbeda, dibandingkan saat duduk di kursi dewan. Ketika menjadi Kepala Desa sejak tahun 2019 lalu, ia harus mampu mengukur janji-janjinya relevan atau tidak.

Karena bersentuhan langsung dengan masyarakat, suatu ketika janji pasti akan ditagih. Berbeda saat masih menjadi anggota DPRD, gaya bicaranya lebih leluasa.

“Misal kita mau bangun ini itu, kita harus hati-hati bicara, sumber dananya dari mana. Apalagi warga Pamotan keren, pinter-pinter. Beda kalau saya dulu jadi DPRD, yang penting ngomong, usul. Soal diterima atau tidak, urusan nanti, “ ungkapnya, Jum’at (15/10).

Sukanya, ketika pihak desa mampu membantu warga dan melayani secara optimal, sebuah kepuasan tersendiri. Kalau dukanya, ia enggan menyebut.

“Ketika kami bisa melayani masyarakat dengan baik, warga puas, itu sukanya. Kalau dukanya, nggak lah, kesannya kok gimana gitu, “ imbuhnya tersenyum.

Menurut Kades yang biasa dipanggil Aang ini, kalau melihat dari sisi luar, kondisi Desa Pamotan, terlihat sudah bagus. Namun ia membenarkan ada sejumlah pekerjaan rumah yang menjadi prioritasnya.

Mulai penataan infrastruktur di kampung pinggiran, serta angka kemiskinan masih cukup tinggi. Dari total 4 ribuan KK, 1.400 KK diantaranya termasuk kategori warga tidak mampu.

“Rumah tidak layak huni masih banyak, kemiskinan masih tinggi. Ini yang terus kita kejar kedepan, “ tandasnya.

Kalau sebatas mengandalkan dana desa, menurutnya sulit melakukan percepatan. Apalagi dana desa saat ini masih difokuskan untuk pemulihan akibat pandemi Covid-19.

“Pertama saya menjabat Kades, dana desa Rp 1,2 Miliar. Tahun 2020 alhamdulilah naik, tapi malah ada corona. Sekarang Rp 894 Juta, tersedot untuk bantuan langsung tunai, “ beber Aang.

Maka pihaknya sedang berancang-ancang menggali potensi desa, untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PAD). Ia mencontohkan sumber air berlimpah di Desa Pamotan, pemerintah desa akan membangun kolam renang standar nasional, dengan ukuran 50 x 25 Meter dan water boom permainan anak.

Lokasinya menempati lahan desa, persis di belakang Balai Desa Pamotan, yang sekarang menjadi kolam ikan. Biaya pembangunan ditaksir mencapai Rp 1,5 Miliar, desa akan menggandeng pihak ketiga.

“Polanya seperti apa, nanti akan kita sampaikan kepada masyarakat, setelah disetujui BPD, “ ungkapnya.

Aang optimis keberadaan kolam renang standar nasional akan mendapatkan sambutan positif, karena di Kabupaten Rembang belum ada.

“BUMDes Pamotan sudah melakukan survei dan kajian, “ terangnya.

Selama ini pendapatan asli Desa Pamotan lebih banyak ditopang dari lelang tanah bondho desa yang menghasilkan hampir Rp 600 Juta, tiap 2 tahun sekali. Ketika kolam renang sudah beroperasi, ditargetkan akan mendongkrak PAD.

Apabila tahapan lancar, gagasan tersebut siap diwujudkan pada tahun 2022. Ia memohon dukungan, karena dengan peningkatan pendapatan asli desa, akan memberikan dampak positif bagi masyarakat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *