Berawal Dari Ancaman Gulung Tikar, Yukk Tengok Kegigihan Anak-Anak Muda Mengolah Lele “Out Of The Box”
Proses pengolahan ikan lele. (Foto atas) Muhammad Rubihandi menunjukkan keripik lele yang sudah jadi.
Proses pengolahan ikan lele. (Foto atas) Muhammad Rubihandi menunjukkan keripik lele yang sudah jadi.

Kaliori – Berawal dari budidaya ternak ikan lele yang sering merugi akibat tingginya biaya pakan, membuat sekelompok pemuda di Dusun Rumbutmalang, Desa Dresi Kulon, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang tergerak untuk mencari peluang bisnis baru, dari potensi ikan lele.

Tokoh pemuda Dusun Rumbutmalang Desa Dresi Kulon, Muhammad Rubihandi menceritakan semula ada sekira 12 orang di kampungnya membudidayakan ikan lele, termasuk ia sendiri. Namun lama kelamaan jumlahnya semakin berkurang, karena alasan biaya pakan tinggi. Begitu waktunya menjual, harga ikan lele justru anjlok di pasaran.

Ancaman gulung tikar benar-benar menjadi momok menakutkan bagi peternak lele. Ia mulai terpikir, bagaimana caranya bisa membeli ikan lele dari peternak, untuk mengangkat lagi semangat mereka.

“Dari 12 orang, tinggal 7 orang yang membudidayakan lele. Alasannya, biaya perawatan tinggi, harga jual anjlok. Harga cuma Rp 14 Ribu per Kg, gimana mau maju. Memang benar pak, kendala itu saya rasakan sendiri, “ tuturnya.

Pemuda yang masih kuliah di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang ini kemudian tercetus ide membuat keripik olahan dari ikan lele. Mengingat di daerah Rembang dan sekitarnya belum ada yang memproduksi.

“Saya ingin out of the box, cari dari sudut pandang yang lain. Biar ada variasi, nggak cuma pecel lele, ” imbuhnya.

Tanpa modal sama sekali, ia bersama sejumlah rekannya melakukan uji coba pembuatan keripik lele. Sempat berulang kali gagal, bahkan sampai menghabiskan 50 an Kg lele.

Pasca dua bulan masa uji coba, akhirnya mampu menghasilkan produk yang tepat dan layak untuk dipasarkan.

“Ya maklum karena kita masih tahap belajar. Waktu itu saya minta lele dari tetangga, minyak goreng bawa dari rumah, sedangkan temen-temen yang cewek membawa bumbu dari rumah masing-masing. Kita difasilitasi tempat di rumah perangkat desa pak Kamituwo, “ kenangnya.

Pemuda berusia 23 tahun yang biasa disapa Andi ini menambahkan untuk operasional sehari-hari, ditopang oleh para pemuda yang tergabung dalam kelompok Sukses Bersama Group, sekaligus dibina oleh BUMDes dan Karang Taruna setempat.

Setelah berjalan setengah tahun terakhir, mereka sudah memiliki 5 macam produk.

“Keripik daging lele, stick lele, kerupuk tulang lele, keripik kulit dan kerupuk mentah. Khusus lele ini alhamdulilah terpakai semua, bahkan duri maupun kepalanya, nggak buang. Untuk jeroan dibuang, tapi bisa digunakan untuk pakan alternatif ternak lele, “ terangnya.

Warung yang diajak bekerja sama untuk menjual produk keripik lele sudah mencapai 30 an titik. Omset kotor mereka per bulan antara Rp 1,5 – 2 Juta. Ditanya soal kendala, Andi menyebut masalah produksi menjadi tantangan terberat. Mengingat, mayoritas pemuda yang terlibat dari pagi sampai sore bekerja. Pembuatan keripik lele, biasanya baru dikerjakan pada malam hari.

“Habis Isya’ kita mulai. Kalau pesanan banyak, bisa sampai jam 10 atau bahkan jam 12 malam. Ada 10 an orang yang terlibat dalam kegiatan ini, “ urai Andi.

Andi berharap produk keripik lele dari Rumbutmalang, Desa Dresi Kulon – Kaliori ini kelak akan semakin tumbuh berkembang menjadi oleh-oleh khas Rembang. Tujuannya, selain untuk menggairahkan lagi peternak lele, juga dapat memberdayakan potensi ekonomi dan pekerja lokal.

“Saya sudah komitmen untuk membeli lele dari peternak Rp 20 Ribu per Kg. Saya paham bagaimana perjuangan peternak lele, jadi insyaallah harga segitu lumayan, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *