Stop Impor, Saatnya Menanti Vaksin Merah Putih. Masih Lama ??
Mobil pengangkut vaksin, ketika tiba di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang.
Mobil pengangkut vaksin, ketika tiba di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, beberapa waktu lalu.

Rembang – DPRD Jawa Tengah kerap mendapatkan keluhan dari masyarakat, seputar fenomena antri berdesak-desakan, demi mendapatkan vaksin untuk menangkal Covid-19.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Endro Dwi Cahyono menjelaskan jumlah vaksin masih terbatas, karena semua negara berlomba-lomba mendapatkan vaksin. Ia mencontohkan vaksin Sinovac, tidak semua negara bisa memperoleh dari China.

“Meski kadang ada yang anggap remeh, kok dari China. Itu nggak semua negara bisa dapat lho. Makanya pak presiden Jokowi bilang vaksin terbaik saat ini apa, ya yang bisa didapatkan dan disuntikkan. Asalkan sudah ada izin dari WHO, “ tuturnya.

Karena jumlahnya masih sangat kurang, Endro mengajak masyarakat bersabar, sambil tetap mematuhi protokol kesehatan, terutama memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah.

“Kalau ada pertanyaan apa kurang, ya pasti. Jumlahnya belum ideal. Vaksin masih jadi barang langka. Lha wong kadang satu desa hanya dapat 100, padahal warganya ribuan, “ imbuh politisi PDI P dari Pati ini.

Endro menambahkan solusi kedepan adalah memproduksi vaksin sendiri. Saat ini pemerintah Indonesia sudah mengawali dengan vaksin merah putih, yang masih dalam pra uji klinis.

Menurut informasi yang ia peroleh, uji klinis perkiraan dimulai akhir Oktober 2021. Setelah melewati tahapan cukup panjang, Mei atau paling lambat Juni 2022 baru bisa diproduksi. Jika target tersebut sesuai rencana, maka Indonesia tidak akan lagi bergantung pada vaksin impor.

“Vaksin moderna, vaksin Astrazeneca yang katanya lebih baik, nggak mudah, karena semua impor. Biasanya juga sudah dimonopoli oleh negara-negara maju. Di sisi lain, patut kita syukuri masyarakat sudah apresiatif terhadap program vaksinasi, “ tandasnya.

Endro mengimbau masyarakat yang antri vaksin, jangan saling berdesakan. Kalau tidak jaga jarak, ia khawatir justru akan menimbulkan kluster baru penyebaran Covid-19.

“Ini menjadi catatan bagi panitia kegiatan vaksinasi itu sendiri, bagaimana caranya mengemas agar warga yang antri tidak berkerumun. Apakah sistem terjadwal, atau ada cara lain. Biar peserta vaksin juga nyaman, nggak terlalu kelamaan menunggu. Syukur bisa jemput bola ke rumah-rumah warga, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *