Bedanya Tahun 2020 Dan 2021 Soal Panen Padi, Berharap Tak Ada Impor
Petani di Desa Mlatirejo, Kecamatan Bulu menebar benih padi, belum lama ini.
Petani di Desa Mlatirejo, Kecamatan Bulu bersiap menanam padi, belum lama ini.

Rembang – Curah hujan menjadi salah satu faktor utama, untuk mengangkat produksi padi di Kabupaten Rembang, karena mayoritas lahan yang ada saat ini merupakan tadah hujan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto menuturkan dari total 28 ribu hektar lahan pertanian, 20 ribu hektar diantaranya termasuk tadah hujan yang mengandalkan pasokan air hujan.

“Sisa 8 ribu hektar sudah irigasi, baik teknis maupun non teknis, “ terangnya.

Ia mencontohkan bukti curah hujan sangat menentukan, manakala sepanjang musim tanam pertama tahun 2021, kebutuhan air tercukupi karena curah hujan tinggi, membuat hasil panen padi sangat bagus. Berbeda jika dibandingkan tahun 2020, ketika kala itu curah hujan rendah.

“Tahun 2020 banyak lahan diberakan (dibiarkan-Red), tapi untuk tahun 2021 air cukup di Kabupaten Rembang, kondisi lahan pertanian kita sangat baik, “ imbuh Agus.

Agus Iwan menambahkan berdasarkan hasil ubinan petugas penyuluh pertanian bersama petugas statistik, menunjukkan rata-rata hasil panen padi mencapai 7 ton per hektar. Jika dihitung dengan luas tanaman padi, Kabupaten Rembang mengalami surplus, bahkan perkiraan mampu memenuhi kebutuhan pangan selama 17 bulan.

“Hasil panen padi kita sudah surplus tahun ini, dibandingkan dengan kebutuhan pangan masyarakat, “ terangnya.

Maka pihaknya berharap pemerintah tidak memberlakukan impor beras, sehingga petani merasakan lebih banyak manfaat.

“Kita berharap tidak ada impor beras, sehingga petani bisa mengambil hasil dari panen raya ini, “ kata Agus Iwan.

Sementara itu, seorang petani di Kecamatan Kaliori, Maji’in berharap jalur-jalur irigasi mendapatkan perawatan rutin, sehingga tidak banyak kebocoran yang akhirnya mengurangi debet air.

“Jatahnya bisa sampai jauh, tapi karena banyak titik jalur irigasi yang rusak, akhirnya pasokan air terbatas. Bendung dan saluran, mayoritas sudah dangkal sekarang. Proyek pembendungan sungai, kalau bisa diperbanyak, “ ungkap Majiin. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *