Pilih Kapulaga Supaya Berbeda, Nama Produk Turut Menentukan
Medi Triastanto menjelaskan pembuatan produknya, Ombe Kapulaga Bang Dzakk. (Foto atas) Peserta pelatihan dari sebuah sekolah tampak mendengarkan paparan pemateri.
Medi Triastanto menjelaskan pembuatan produknya, Ombe Kapulaga Bang Dzakk. (Foto atas) Peserta pelatihan dari sebuah sekolah tampak mendengarkan paparan pemateri.

Bulu – Banyaknya potensi rempah-rempah di Kabupaten Rembang, mendorong kalangan mahasiswa pasca sarjana program studi Ketahanan Nasional UGM Yogyakarta yang menggelar program pengabdian kepada masyarakat di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, mengadakan pelatihan pembuatan minuman rempah, sekaligus bagaimana cara promosi.

Tak hanya diikuti warga Desa Kadiowno, perwakilan dari sejumlah sekolah SMA/SMK di Kabupaten Rembang juga turut ambil bagian.

Syafik Effendhy, mewakili pihak Program Studi Ketahanan Nasional UGM mengatakan upaya tersebut selaras dengan kondisi pandemi saat ini, banyak masyarakat yang membutuhkan minuman bermanfaat bagi kesehatan.

“Tak hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi juga mempunyai nilai ekonomis jika bisa dikembangkan. Makanya kita beri bekal pelatihan, “ ungkapnya.

Dalam pelatihan yang berlangsung secara virtual itu, dihadirkan pemateri Medi Triastanto dari Depok – Jawa Barat, selaku pemilik minuman rempah Ombe Kapulaga Bang Dzakk.

Medi memilih kapulaga sebagai bahan minuman, karena jenis rempah tersebut selama ini lebih dikenal untuk bumbu masakan. Setelah dipasarkan, oleh sebagian kalangan menganggap produknya terasa seperti kombinasi antara bir pletok (minuman khas Betawi-Red) dengan bandrek.

“Kan biasanya untuk sop, bumbu soto, nah ini kapulaga kita jadikan bahan utama minuman, biar orang penasaran, karena berbeda, “ kata Medi.

Ia juga menerangkan bahwa nama produk sangat penting untuk mempengaruhi konsumen mau membeli.

“Ombe Kapulaga Bang Dzakk, Ombe saya dari Jawa ya artinya minum, Kapulaga bahannya, sedangkan Bang Dzakk anak saya kebetulan namanya Ahmad Zaky, sering dipanggil Bang Dzakk, “ imbuhnya.

Soal promosi, Medi menyarankan untuk memulai dari lingkungan terdekat, seperti rumah dan kantor dulu. Termasuk mengoptimalkan fungsi media sosial. Jika memungkinkan, bentuklah tim minimal 3 orang, guna lebih mempercepat proses pemasaran.

“Kenapa tiga atau ganjil, kalau ada beda pendapat, yang satu sebagai penengah. Anggota tim kenali bakatnya, bakat mengolah bahan biarkan dia mengolah bahan, bakat marketing fokuskan ke marketing. Insyaallah 50 % bisa dapat keuntungannya, dari modal yang dikeluarkan, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *