Mengintip Sisi Lain Ngargomulyo, Kepala Desa Ungkap Antara Suka Dan Duka
Desa Ngargomulyo, Kecamatan Lasem. (Foto atas) Kades, perangkat dan Babinsa menyusuri jalan desa.
Desa Ngargomulyo, Kecamatan Lasem. (Foto atas) Kades, perangkat dan Babinsa menyusuri jalan desa.

Lasem – Meski merupakan daerah terpencil di puncak pegunungan Lasem, namun desa ini memiliki infrastruktur yang jauh lebih bagus, ketimbang desa-desa pada umumnya.

Yah..desa ini adalah Ngargomulyo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Akses jalan masuk kampung sudah full beton. Tidak hanya itu saja, gang-gang sempit maupun jalan-jalan kecil di tengah permukiman penduduk, semua sudah dibeton, sehingga memudahkan aktivitas masyarakat.

Karena berada di daerah perbukitan, infrastruktur tebing juga tidak kalah menyedot perhatian. Titik-titik rawan longsor, telah dilengkapi dengan tebing kokoh dan pagar pembatas.

Situs-situs bersejarah, seperti Batu Gambir dan Batu Eblek yang berusia ratusan tahun dijaga oleh pihak desa setempat. Kondisi di sini, betul-betul tertata.

Sebenarnya apa rahasia di balik semua itu ? Ternyata Desa Ngargomulyo, Kecamatan Lasem merupakan salah satu desa terkecil di Kabupaten Rembang, sehingga pihak desa lebih leluasa dalam membelanjakan anggaran dana desa.

Salah satu situs bersejarah di Desa Ngargomulyo.
Salah satu situs bersejarah di Desa Ngargomulyo.

Kepala Desa Ngargomulyo, Sukardi mengatakan di desanya terdapat 90 an rumah, dengan jumlah 116 kepala keluarga (KK). Ia bersyukur selama ini pemerintah sangat memperhatikan desa-desa kecil di daerah terpencil. Rata-rata per tahun, pendapatan desa dari berbagai sumber, mencapai Rp 1 Milyar lebih.

Dengan jumlah warga sedikit dan luas wilayah tidak terlalu luas, menjadi nilai plus dari sisi pemerataan pembangunan.

Termasuk ketika anggaran difokuskan untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19, pihaknya tidak terlalu risau, karena warga yang diurusi sedikit.

“Kalau yang dibutuhkan jalan ya jalan, andaikan tebing ya tebing, kita sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Apalagi ketika pandemi ini, kita ya alhamdulillah, istilahnya rodo ayem. Desanya kecil, anggaran banyak, “ tutur Sukardi.

Tapi bukan berarti tanpa kendala. Tetap saja muncul sisi minusnya, manakala tinggal di puncak gunung. Ia mencontohkan saat ada warga membangun rumah maupun melaksanakan proyek infrastruktur desa, harga material bangunan melonjak, karena jarak cukup jauh dan keterbatasan sarana transportasi.

Pasir 1 rit truk misalnya, sampai Desa Ngargomulyo mencapai Rp 1,8 Juta. Padahal jika desa yang mudah terjangkau, tidak sampai Rp 1 Juta.

“Tapi kalau ditanya antara suka dukanya, ya lebih banyak sukanya, “ imbuhnya.

Sementara itu, Anggota Babinsa Desa Ngargomulyo dari Koramil Lasem, Serka Suyuti mengatakan meski lokasi jauh, namun ia senang bertugas di Ngargomulyo, karena warga maupun perangkat desanya mudah diajak komunikasi. Apalagi semangat persaudaraan di Ngargomulyo, begitu terasa.

“Dari anak-anak sampai orang dewasa, kenal sama saya. Dulu saya membawahi 3 desa, Gowak, Ngargomulyo dan Sendangcoyo. Cuma setelah ada anggota Babinsa baru, saya akhirnya menjadi Babinsa di 1 desa saja, Ngargomulyo sini. Masyarakatnya guyup rukun, “ beber Serka Suyuti.

Di Ngargomulyo saat ini masih terdapat 20 an KK keluarga tidak mampu. Setelah infrastruktur sudah tertata bagus, kedepan program pemberdayaan akan lebih diperkuat, guna mempercepat pengentasan kemiskinan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *