Tak Hanya Kaya Sumber Air, Desa Kajar Terselip Pesona Lain
Serba serbi Desa Kajar, Kecamatan Lasem sebagai penghasil bunga terbesar di Kabupaten Rembang.
Serba serbi Desa Kajar, Kecamatan Lasem sebagai penghasil bunga terbesar di Kabupaten Rembang.

Lasem – Kampung ini layak mendapatkan julukan sebagai desa terwangi di Kabupaten Rembang.

Betapa tidak, aroma berbagai macam bunga seketika menyeruak, saat saya menyusuri jalan di tengah perkampungan penduduk. Yah..namanya Desa Kajar, Kecamatan Lasem.

Desa yang berada di kawasan Pegunungan Lasem ini tidak hanya terkenal memiliki sumber air berlimpah, tetapi juga merupakan penghasil bunga terbesar di Kabupaten Rembang. Dari 450 an kepala keluarga, mayoritas mengandalkan bunga sebagai sumber ekonomi.

Solusi Keluhan Lambung

Salah satunya Munarko. Ia dulu merupakan petani padi. Namun karena musim tidak menentu dan beberapa kali mengalami gagal panen, akhirnya memutuskan banting setir.

Lahan sawahnya ditanami bunga mawar. Semula hanya sedikit, untuk coba-coba. Karena penghasilan menjanjikan, serta bisa memperoleh pemasukan setiap hari, Munarko terus menambah luasan bunga mawar hingga mencapai 2.500 batang.

“Yang penting airnya cukup mas, biar tanah tidak terlalu kering, “ ujarnya.

Ketika masa sekarang, harga bunga mawar Rp 100 per biji, bisa mendapatkan pemasukan rata-rata Rp 200 ribu setiap hari. Lonjakan harga biasanya terjadi saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, karena kebutuhan bunga meningkat pesat. Harga mawar bisa mencapai Rp 2.000 per biji.

“Menjelang Lebaran harga semakin mahal. Bahkan bunga juga rawan dicuri, karena sangking mahalnya, “ kata Sunarko.

Kepala Desa Kajar, Kecamatan Lasem, Widayat mengungkapkan warga yang memiliki pekarangan, hampir di setiap depan rumah terdapat pohon bunga kenanga dan gading.

Sedangkan untuk bunga melati dan mawar, umumnya dibudidayakan di lahan perkebunan.

“Jadi sebelum jam 7 pagi itu, warga sudah ramai antar bunga ke pengepul, kemudian dibawa ke pasar, “ bebernya.

Widayat menambahkan wanginya bunga akan semakin terasa pada saat awal musim penghujan. Bahkan warga yang kebetulan baru masuk ke Desa Kajar pada malam hari, kerap merasa merinding, karena sangking wanginya, seperti suasana di tengah makam.

Tapi bagi warga setempat, suasana keteduhan malam semacam itu menjadi hal biasa.

“Pas nanti menjelang musim Penghujan, jenengan kesini, bisa dibuktikan aroma wangi bunga sampai menusuk hidung, “ ucap Kades.

Hasil panen bunga dari Desa Kajar, Kecamatan Lasem tidak hanya untuk memenuhi permintaan pasar lokal. Namun sudah merambah ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahkan beberapa jenis bunga ada yang sampai diekspor ke luar negeri, untuk bahan baku minyak atsiri. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *