Bukan Sampah Sungai Bagan Lasem Penyebab Rembang Gagal Raih Adipura, Tapi Ternyata Karena Masalah Ini
Sampah menempel di rumpun bambu, pinggir Sungai Bagan Lasem.
Sampah menempel di rumpun bambu, pinggir Sungai Bagan Lasem.

Rembang – Masih banyak warga membuang sampah sembarangan ke sungai Bagan Lasem. Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyebut pemerintah tidak bisa menangani sendiri, tanpa bantuan masyarakat, terutama yang tinggal di daerah sempadan sungai.

Hafidz mengatakan di beberapa titik sudah dibangun tempat pengelolaan sampah. Namun hal itu belum menyelesaikan masalah. Cara lain kedepan dengan memperbanyak bak kontainer sampah, sehingga warga diharapkan dapat lebih mudah memanfaatkan.

“Sosialisasi sudah berulang kali oleh pihak Kecamatan Lasem. Kami siap sediakan bak kontainer sampah, biar masyarakat nggak buang sampah ke sungai. Yang paling pokok adalah kesadaran warga, “ ungkapnya.

Kumuhnya Sungai Bagan, menurut Bupati bukan menjadi penyebab utama Kabupaten Rembang tidak bisa meraih gelar Adipura, sejak tahun 2019 lalu. Faktor gagalnya Kabupaten Rembang lebih dipicu karena kondisi tempat pemrosesan akhir sampah (TPAS) Desa Landoh, Kecamatan Sulang yang belum memenuhi standar.

Kini luasnya sudah ditambah 1,5 hektar, sehingga total mencapai 6,5 hektar.

“Alhamdulilah temen-temen DPRD sudah menyetujui penambahan areal TPAS. Insyaallah kalau kita kelola dengan baik, Rembang bisa memperoleh Adipura, “ bebernya.

Kala itu, kriteria batas minimal nilai peraih Adipura adalah 74. Kabupaten Rembang sudah mengantongi 74. Namun belakangan batas nilai dinaikkan menjadi 76.

“Ternyata banyak daerah yang bisa meraup angka 74. Kemudian dinaikkan menjadi 76, itu yang membuat kita kelabakan, “ kata Bupati.

TPAS ini merupakan tempat pemrosesan akhir, sedangkan tempat pembuangan sampah, Pemerintah Desa masing-masing juga didorong ikut ambil bagian menangani sampah rumah tangga warganya.

Sebagian desa sudah mengalokasikan anggaran pembuatan bak kontainer, namun masih banyak desa yang mengabaikan. Akibatnya, sampah dibuang sembarangan di lahan kosong atau pinggir jalan, sehingga menimbulkan tempat kumuh baru.

Soal pengangkutan bak kontainer, desa bisa bekerja sama dengan armada truk dari Dinas Lingkungan Hidup. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan