Kisah Perjuangan Didik Wahyu, Dari PSIR Hingga Menembus Timnas
Jukasri, warga Desa Babadan Kecamatan Kaliori, menunjukkan foto anaknya, Didik Wahyu Wijayance.
Jukasri, warga Desa Babadan Kecamatan Kaliori, menunjukkan foto anaknya, Didik Wahyu Wijayance.

Kaliori – Seorang warga Desa Babadan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Didik Wahyu Wijayance (27 tahun) atau akrab disapa Didon, memperkuat tim nasional sepak bola yang berlaga dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Uni Emirat Arab.

Siapa sangka, Didik Wahyu yang juga merupakan anggota TNI berpangkat Sersan Satu tersebut, mengawali perjuangan tidak kenal lelah. Anak pertama dari 4 bersaudara, pasangan Eko Munari Prasetyo dan Jukasri ini menularkan kisah inspiratif tentang arti kerja keras meraih keberhasilan.

Sang ibunda, Jukasri mengisahkan Didik Wahyu Wijayance sejak kecil sudah senang olahraga sepak bola. Ketika masih kelas V SD, Didik Wahyu naik sepeda onthel dari Desa Babadan Kecamatan Kaliori sampai Stadion Krida Rembang yang jaraknya lumayan jauh, untuk berlatih sepak bola. Semua dijalani dengan penuh semangat.

Solusi Keluhan Lambung

“Belum punya sepeda motor waktu itu, jadi ya naik sepeda, “ kenangnya.

Berbagai macam event pertandingan sepak bola dari tingkat kabupaten, provinsi sampai nasional diikuti. Hingga Didik Wahyu masuk tim PSIR Rembang.

Kalau ingat masa-masa itu, Jukasri selalu menangis, karena merasa kasihan dan terharu.

“Saya biasa bilang gini, ndak apa-apa nak hari ini kamu berjuang, berat, tapi siapa tahu nanti menjadi orang yang berguna. Anaknya sendiri punya semangat, orang tua tinggal mendukung, “ kata Jukasri.

Lulus SMP N I Rembang, Didik Wahyu melanjutkan ke SMK N I Rembang. Menginjak kelas II SMK, direkrut masuk Diklat Salatiga. Selesai Diklat, mendaftarkan diri menjadi anggota TNI melalui jalur talenta, prestasi olahraga.

Pada awalnya ia sempat melarang, karena khawatir jika nanti diterjunkan ke medan perang. Namun setelah mengetahui ternyata bisa menjadi anggota TNI merangkap atlet sepak bola, Jukasri pun merestui.

Ketika anaknya mendaftar TNI, Jukasri terus memanjatkan do’a. Ia menyadari tak punya banyak uang. Sampai tiba kabar gembira, akhirnya Didon diterima pada tahun 2014, lalu bertugas di Kesatuan Polisi Militer Angkatan Darat.

“Ada teman anak saya yang meyakinkan bisa kok bu jadi TNI dan atlet. Waktu daftar itu ya nggak punya uang, saya cuma berdo’a terus, semoga berhasil, “ imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.

Didik Wahyu yang mempunyai isteri warga Desa Meteseh, Kecamatan Kaliori – Rembang ini, lebih banyak menghabiskan waktu sebagai pemain PS Tira Persikabo. Tiap kali akan bertanding, Didik kerap mengabarkan lewat telefon.

Sampai kemudian ada pemain Timnas cedera, sehingga pelatih Shin Tae-Yong memanggil Didik Wahyu Wijayance untuk memperkuat skuad Timnas yang berlaga di Dubai, Uni Emirat Arab dalam ajang Kualifikasi Piala Dunia. Jukasri mengaku bangga cita-cita anaknya sejak kecil bisa terwujud.

“Anak saya sempat merahasiakan ketika buat paspor. Setelah mau berangkat ke Dubai, baru kasih tahu. Keluarga tentu saja surprise, alhamdulillah, “ beber Jukasri.

Ia selalu berpesan kepada Didik Wahyu untuk berbuat baik kepada siapa saja dan tidak boleh sombong.

Sementara itu mantan pelatih PSIR Rembang, Hariyanto menjelaskan bakat Didik Wahyu “Didon” sudah nampak sejak bergabung di tim sepak bola PSIR U-15.

Didon langganan menempati posisi bek tengah atau libero, karena postur tinggi badannya 173 centi meter, unggul di bola-bola atas. Ia pribadi ikut bangga Didon masuk Timnas, sekaligus diharapkan bisa memompa semangat bibit-bibit sepak bola di Rembang.

“Semoga adik-adik di Sekolah sepak Bola (SSB) giat berlatih, biar bisa masuk Timnas kayak mas Didon. Ikut bangga salah satu putera terbaik Rembang memperkuat Timnas, “ ujarnya.

Hariyanto titip pesan kepada Didik Wahyu agar tetap semangat meningkatkan penampilan, karena persaingan di Timnas sangat ketat.

Timnas Indonesia sendiri sudah dipastikan tidak lolos ke Piala Dunia 2022. Namun masih memiliki peluang untuk ikut berlaga di Piala Asia 2023. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *