Di Tengah Kesibukan Sebagai Wakil Bupati, Gus Hanies Tak Lupakan Kebiasaan Lamanya
Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’ main tenis meja, dengan ajudannya.
Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’ main tenis meja, dengan ajudannya.

Rembang – Barang apa yang sering menempel di baju Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’ dan kenapa sang Wakil Bupati belum pernah duduk di kursi utama ruang kerjanya ?

Selain tentu saja obrolan masalah pemerintahan dan upaya membawa Kabupaten Rembang lebih baik bersama Bupati, Abdul Hafidz, saya mendapatkan banyak inspirasi dari sisi lain Wakil Bupati, kelahiran 17 Agustus 1982 tersebut.

Mochamad Hanies Cholil Barro’ merupakan anak ke-7 dari 8 bersaudara, Almarhum Kyai Cholil Bisri, ulama pengasuh pondok pesantren Roudlotut Thalibin Leteh Rembang.

Wakil Bupati yang pernah berjualan burger di pojok Alun-Alun Rembang ini mengaku ada beberapa situasi yang berubah, setelah dirinya menjadi Wakil Bupati. Mulai waktu untuk keluarga, hingga jam bangun tidurnya. Meski demikian ia akan tetap berusaha mengantar anaknya ke sekolah, jika kelak pembelajaran tatap muka dimulai. Sebuah rutinitas tiap pagi, sebelum pandemi melanda.

“Maunya diantar sama saya, insyaallah masih saya sempatkan. Kebetulan ini masih belajar lewat virtual. Kalau waktu untuk keluarga bukan berkurang ya, tapi beralih saja, “ ungkapnya.

Karena pagi harus masuk kantor, Gus Hanies, demikian sapaan akrabnya memilih membatasi jam melek malam, maksimal sampai pukul 01.00 dini hari. Kalau dulu sehabis Subuh sering tidur sampai siang, sekarang sudah tidak bisa seperti itu. Jam tidur berkurang, menurutnya konsekuensi biasa.

“Ya kalau larut malam bukan tamu sich, tapi temen-temen. Lebih fleksibel. Jadi kalau ngantuk, ya saya tinggal. Pagi pun isteri biasa mengingatkan, karena dari dulu saya terkenal paling sulit dibangunkan, “ tutur Gus Hanies tersenyum.

Untuk menjaga kebugaran, Gus Hanies tidak meninggalkan kebiasaan lamanya, yakni olahraga tenis meja. Di tengah kesibukan sebagai Wakil Bupati, Gus Hanies bisa 3 sampai 4 kali main tenis meja dalam seminggu, sering kali ajudannya menjadi rekan sparing.

Kebetulan tenis meja merupakan olahraga yang sejak dulu digemari keluarganya, termasuk sang kakak, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Kali pertama ia diajari oleh Bulik Farida, adik ayahandanya yang memang sudah jago.

“Bulik Farida ini pernah juara kabupaten atau provinsi gitu, saya masih kecil banget. Ada meja pingpong di pondok pesantren, kita para keponakan diajari semua, termasuk pak menteri (Yaqut Cholil Qoumas-Red). Kalau nggak tenis meja, di badan kerasa ada yang beda, “ imbuhnya.

Disinggung siapa sosok spesial yang berpengaruh dalam hidupnya ? Wakil Bupati menyebut ibunya, Nyai Hj. Muchsinah. Sampai saat ini pun banyak momen ia menangis di pangkuan ibunya.

“Yang terkini ketika saya mendaftar jadi Cawabup, lalu saya laporkan hasil Pilkada. Ibu, saya menangis. Saya tinggal di rumah dinas, tapi masih sering pulang ke kediaman di pondok. Perjuangan beliau luar biasa, setelah abah kapundhut (wafat-Red). Do’a beliau mustajab, “ katanya lirih.

Supaya tidak terlalu larut, saya mencoba bertanya hal-hal ringan. Iseng saya bertanya benda apa yang selalu terselip di baju Wakil Bupati ? Gus Hanies sontak tertawa, karena benda bernama Ea Mask itu bagian dari ikhtiar di tengah pandemi Covid-19.

Konon menurut iklannya, bisa mencegah masuknya bakteri maupun virus. Di situs-situs online, harganya pada kisaran Rp 150.000 per buah.

“Saya belinya online, katanya bisa membunuh virus dan bakteri di radius 1 Meter. Bukan korban iklan, tapi bagian ikhtiar, “ beber mantan Ketua Umum GP Ansor ini.

Dari awal saya sempat dikasih tahu oleh seseorang, sejak dilantik tanggal 26 Februari 2021 lalu sampai sekarang, ternyata Gus Hanies belum pernah sekalipun duduk di kursi utama dekat meja kerjanya.

Saat menyusuri bagian per bagian ruang kerjanya, hal itu saya tanyakan. Gus Hanies membenarkan memang belum pernah duduk di kursi tersebut. Tapi bukan karena ada sesuatu yang ganjil, melainkan belum ketemu satu momentum, sehingga dirinya harus duduk di kursi itu.

Saat menemui tamu, biasa duduk di kursi sofa. Ketika rapat dengan pegawai jajaran, di meja rapat. Begitu pula menandatangani berkas-berkas, Wabup lebih sering berada di ruang staf.

“Lebih nyaman duduk di sofa. Nah duduk di kursi itu (sambil menunjuk) belum ketemu momentumnya saja, lagipula nggak penting-penting amat duduk di situ. Bukan karena ada saran dari orang lain atau karena gimana-gimana gitu, nggak, “ ujarnya.

Untuk urusan duduk di mana, Wakil Bupati yang juga ketua DPC PKB Kabupaten Rembang ini menganggap bukanlah hal penting. Justru yang menjadi perhatian saat ini Pemkab Rembang dihadapkan pada masalah kemiskinan masih tinggi, penataan infrastruktur, peningkatan layanan birokrasi dan pengembangan potensi daerah.

Di tengah pandemi Covid-19, kondisi keuangan masih belum normal untuk menyokong program pembangunan, akibat refocusing.

“Saya sebagai Wabup mendukung penuh kebijakan pak Bupati. Dalam waktu dekat, Lasem akan ditata sebagai kota pusaka. Kemiskinan jadi tugas saya sebagai Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Sudah ada rencana kerja yang akan kita jalankan, “ tandasnya.

Melihat beban tugas seperti itu, sebenarnya berapa gaji seorang Wakil Bupati ? Nah..pertanyaan ini saya lontarkan menjelang akhir wawancara. Gus Hanies blak-blakan menjawab sekira Rp 5,2 Juta per bulan.

Ia menegaskan tidak berpikir besar kecilnya gaji, karena niat dari awal untuk berkidmah melayani masyarakat dan membantu Bupati, membawa Kabupaten Rembang lebih baik.

“Sebelum mencalonkan diri sudah ada yang ngasih tahu berapa gaji Wabup. Mau ngapain sich, wong niatnya khidmah. Yang penting bisa membantu pak Bupati mewujudkan visi misi Rembang, lebih cepat lebih baik, gitu saja, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *