Produk UMKM Masuk Toko Modern, Sistem Pembayaran Menuai Kritikan
Anggota Komisi II DPRD Rembang, Agus Sutrisno.
Anggota Komisi II DPRD Rembang, Agus Sutrisno.

Rembang – Anggota Komisi II DPRD Rembang yang membidangi masalah perekonomian, Agus Sutrisno melontarkan saran dan kritikan, terkait produk UMKM yang mulai dipasarkan ke toko-toko modern.

Menurutnya, yang paling penting adalah sistem pembayaran, jangan sampai justru memberatkan pelaku UMKM.

Agus Sutrisno mengakui secara prinsip ia mendukung perluasan pemasaran tersebut. Namun selama ini yang sering menuai keluhan adalah pelaku UMKM menitipkan barang dulu. Kalau barang laku, baru dibayar. Menurutnya, sistem tersebut ibaratnya seperti UMKM yang memodali pengusaha besar.

Ia berharap ada mekanisme yang lebih baik. Begitu UMKM menyerahkan barang dan sudah ada kwitansi, pembayaran bisa langsung dilunasi. Mengingat modal UMKM pas-pasan, sehingga bisa mempercepat perputaran uang mereka.

“Harusnya mekanisme normal dipakai, biar tidak memberatkan. Lha UMKM itu berapa sich modalnya. Jangan sampai timbul kesan UMKM yang memodali mereka. Beberapa kali sistem ini menjadi keluhan, “ ujarnya, Jum’at (16 April 2021).

Agus Sutrisno menambahkan tidak hanya menyasar toko modern, mestinya Pemkab Rembang juga lebih intens membantu membangun jaringan dan membukakan kanal-kanal pemasaran. Ia mencontohkan sektor pariwisata di Kabupaten Rembang mulai menggeliat, tapi untuk membeli oleh-oleh khas Rembang yang terpusat masih susah.

“Ini bisa menjadi potensi peluang bagi produk UMKM. Di daerah lain, Pemkabnya sudah memfasilitasi tempat pemasaran yang langsung kepada pembeli. Rembang saya kira bisa meniru, “ imbuh Ketua PKS Kabupaten Rembang ini.

Untuk jangka pendek, ia menyarankan setidaknya semua kegiatan rapat di jajaran Pemkab Rembang dan DPRD, makanan dan minuman yang disajikan bisa mengoptimalkan produk UMKM. Apalagi anggarannya dari tahun ke tahun lumayan besar.

“Kalau ini bisa diserap UMKM kuliner, paling tidak bisa membantu pemasaran mereka kan, “ tandasnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Klaster Industri Kuliner Kabupaten Rembang, Sanyoto membenarkan pelaku UMKM menitipkan produknya ke toko modern. Begitu laku, baru dibayar. Kalau tidak, maka harus diganti barang baru.

Ia sendiri pada tahun 2016 lalu sempat pernah kerja sama dengan salah satu ritel modern. Namun akhirnya terhenti, karena lama kelamaan pesanan dikurangi.

“Barang harus diantar langsung ke toko modern. Jumlahnya cuman 2 buah. Di toko sebesar itu harus bersaing dengan produk lain yang berjajar jumlahnya lebih banyak. Pembeli rata-rata mengira barang milik saya barang sisa, padahal nggak kan. Daripada susah-susah, akhirnya saya mencari pangsa pasar lain, “ kata Sanyoto.

Atas kondisi tersebut, Sanyoto mendesak pihak-pihak terkait melakukan pengawalan, supaya produk UMKM di toko modern tetap mendapatkan kesempatan yang layak dan tidak sekedar formalitas belaka. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *