Mengintip Kegiatan Cek Jam Jelang Ramadhan, Perbedaan Waktu Diantisipasi Dengan Tafawut
Pegawai Kemenag Rembang mencocokkan jam di studio R2B. (Foto atas) Pengecekan jam di Masjid Agung Rembang.
Pegawai Kemenag Rembang mencocokkan jam di studio R2B. (Foto atas) Pengecekan jam di Masjid Agung Rembang.

Rembang – Pihak Kementerian Agama Kabupaten Rembang melakukan pengecekan jam di Masjid dan studio radio, menjelang bulan suci Ramadhan.

Langkah tersebut untuk memastikan ketepatan waktu, karena jadwal imsak dan berbuka puasa dari Masjid maupun studio radio, sering kali menjadi acuan masyarakat.

Petugas Kementerian Agama mengawali pantauan ke Masjid Agung Rembang, di kawasan Alun-Alun. Pencocokan jam dengan menggunakan alat GPS. Hasilnya, ada selisih beberapa detik. Karena selisih sedikit, masih dalam batas toleransi dan dianggap tidak masalah.

Setelah dari Masjid Agung, kemudian bergeser ke sejumlah studio radio. Di Radio R2B Jl. Pemuda KM 03 Rembang, posisi jam di komputer siaran sudah sesuai.

Seorang penyiar radio, Yuli Hendriyana mengaku terbantu oleh kedatangan pegawai Kementerian Agama. Mengingat masalah ketepatan waktu menjadi bagian penting, ketika menyiarkan jadwal sholat, jadwal imsak dan berbuka puasa.

“Biar ada ketepatan, tadi saat jam dicek hanya terpaut detik. Kata pihak Kemenag nggak masalah, “ tuturnya, Jum’at (09 April 2021).

Selain Radio R2B, beberapa studio radio juga turut didatangi. Ketika menemukan jam terpaut setengah menit atau bahkan 1 menit, langsung diminta untuk menyesuaikan.

Pegawai Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Fahrur Rohman menjelaskan waktu sangat menentukan keabsahan seseorang dalam menunaikan ibadah, apalagi selama bulan suci Ramadhan di kala fokus perhatian tertuju pada waktu imsak dan berbuka.

Kalau tidak dicek secara rutin, umumnya jam analog akan mengalami perbedaan dengan GPS. Tingkat selisihnya lebih rawan, ketimbang jam digital.

Selama ini masyarakat umumnya hanya melihat jadwal yang dikeluarkan dari Kementerian Agama setempat, tanpa mau mencocokkan jam.

“Ini yang masalah, karena jam yang jadi pathokan, bisa terlalu cepat atau terlalu lambat, “ ungkapnya.

Untuk mengantisipasi perbedaan waktu, pada jadwal imsak dan berbuka puasa yang diterbitkan Kementerian Agama, selalu diberi toleransi pengurangan dan kelebihan jeda waktu 2 Menit.

“Kita kurangi di waktu Imsak dan ditambah untuk waktu berbuka. Jadi masa toleransinya 2 menit. Kami menyebutnya tafawut, “ papar Fahrur.

Fahrur menyarankan masyarakat untuk mencocokan jam masing-masing, dengan menggunakan piranti GPS dari HP android. Bisa pula menyesuaikan melalui jam TVRI yang bisa diandalkan akurasinya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *