Dulu Limbah Terbuang Percuma, Kini Mendatangkan Rupiah
Aktivitas KWT Sri Rejeki Dusun Sulo, Desa Sriombo, Kecamatan Lasem mengolah gedhebok pisang menjadi barang bernilai ekonomis.
Aktivitas KWT Sri Rejeki Dusun Sulo, Desa Sriombo, Kecamatan Lasem mengolah gedhebok pisang menjadi barang bernilai ekonomis.

Lasem – Batang pohon pisang atau kerap disebut gedhebok selama ini kerap menjadi limbah yang terbuang percuma.

Namun di tangan 23 orang wanita yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Rejeki Dusun Sulo, Desa Sriombo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang ini, batang pohon pisang pasca panen justru mampu menghasilkan pundi-pundi uang, untuk mengangkat perekonomian mereka.

Ketua KWT Sri Rejeki, Niken Larasati menceritakan semula ada anggotanya mencoba membuat cemilan dari gedhebok pisang, ternyata rasanya enak. Pihaknya kemudian mempraktekkan secara massal dengan label produk Gedhebok Crispy dan gencar diupload ke media sosial. Tak disangka respon masyarakat sangat bagus. Permintaan dari berbagai daerah pun ramai bermunculan.

“Anggota DPR RI dari Rembang, bu Harmusa Oktaviani juga sempat datang ke sini. Beliau pesan 100 pcs dibawa ke Jakarta. Banyak sekali permintaan masuk, “ tuturnya, Rabu (24/03).

Belum 1 bulan, KWT Sri Rejeki sudah mampu memasarkan 1.000 pcs Gedhebok Crispy, menyebar ke berbagai daerah. Bahkan sudah menembus Jakarta, Semarang, Malang dan Surabaya. Untuk eceran, saat ini per bungkus Gedhebok Crispy isi 80 Gram, dijual Rp 7 Ribu.

“Untuk yang reseller saat ini harganya Rp 6 Ribu mas, “ rinci Niken.

Niken membeberkan cara membuat Gedhebok Crispy, kali pertama batang pohon pisang diiris tipis, kemudian dipotong kecil-kecil berbentuk persegi panjang. Potongan gedhebok dicampur rempah-rempah, seperti bawang putih, ketumbar, kencur dan daun jeruk yang sudah dihaluskan.

Setelah itu digoreng dengan campuran tepung. Selanjutnya, gedhebok hasil penggorengan dikurangi kadar minyaknya menggunakan alat spinner. Begitu selesai, Gedhebok Crispy siap dikemas dan dinikmati.

“Setelah digoreng, biasanya kita tunggu 1 malam, kemudian baru dimasukkan ke spinner. Biar kadar minyaknya berkurang, “ imbuhnya.

Selain mengoptimalkan limbah batang pohon pisang menjadi nilai ekonomis, menurutnya Gedhebok Crispy dipercaya mampu mengontrol kadar kolesterol dan cocok untuk diet, karena kaya serat.

“Untuk bahan baku sejauh ini lancar. Karena warga mulai tahu gedhebok bisa dimanfaatkan, jadi warga kasih informasi kami kalau sesudah panen nebang pohon pisang, “ pungkasnya.

Petugas Penyuluh Pertanian dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Lasem, Nuril Anwar mengakui saat mendampingi KWT Sri Rejeki membuat Gedhebok Crispy ini perlu uji coba sampai 3 kali. Percobaan ke empat, baru mendapatkan komposisi yang tepat.

“Nggak sekali langsung jadi, tapi butuh proses percobaan. Mulai dari sisi bumbunya, sampai dapat komposisi yang ok, “ terang Nuril.

Menurutnya, produk ini memiliki cita rasa yang gurih dan renyah. Lebih dari itu, sanggup memberdayakan ibu rumah tangga, supaya memperoleh tambahan penghasilan.

“Ini merupakan lompatan produk yang luar biasa dan layak diviralkan, “ paparnya tersenyum.

Sementara itu, Kepala Desa Sriombo, Kecamatan Lasem, Bambang Purwanto menyatakan pihaknya mendukung penuh upaya KWT Sri Rejeki. Ia menyarankan kedepan pemasaran produk diperluas ke toko-toko tradisional maupun mini market.

“Persaingan di luar sana kan ketat ya, jadi perlu dilengkapi izin-izinnya, agar bisa bersaing dengan produk lain, “ ujarnya.

Bambang menekankan jangan hanya berhenti sampai di sini, tapi inovasi KWT Sri Rejeki dapat terus berjalan secara berkelanjutan, sehingga mampu menjadi pemicu inspirasi bagi kelompok-kelompok lainnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan