Masalah Pangan Di Tengah Lonjakan Jumlah Penduduk, Firman Soebagyo Ungkap Kendala Yang Membelit
Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Petani Dan Penyuluh Pertanian di Rembang, Senin pagi (22 Maret 2021). Tampak seorang petani mendengarkan paparan Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebaghyo.
Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Petani Dan Penyuluh Pertanian di Rembang, Senin pagi (22 Maret 2021). Tampak seorang petani mendengarkan paparan Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo.

Rembang – Sektor pangan akan menjadi masalah serius bagi Indonesia, seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk.

Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo mengungkapkan hal itu ketika membuka Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Petani Dan Penyuluh Pertanian di Hotel Fave Rembang, Senin pagi (22 Maret 2021).

Firman menyampaikan materi secara virtual, di hadapan 100 orang peserta Bimtek yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurut Firman, pada tahun 2020 jumlah penduduk Indonesia mencapai 271 Juta jiwa, kemudian diproyeksikan bertambah menjadi 284 Juta jiwa pada tahun 2025 mendatang. Dengan jumlah penduduk terbesar nomor 4 se dunia, Indonesia akan dihadapkan pada masalah pangan dan energi.

“Kalau saya boleh mengutip pidato Bung Karno, soal pangan adalah mati hidupnya suatu bangsa, “ ujarnya.

Anggota DPR asli Desa Kedalon, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati ini merasa prihatin, karena sekarang sulit menemukan anak-anak muda yang senang menggeluti profesi sebagai petani. Mereka justru lebih memilih menjadi kuli di kota besar atau pembantu rumah tangga di luar negeri.

Maka ia mendorong kepada pemerintah di semua tingkatan untuk bersama-sama memoles sektor pertanian, sehingga memiliki daya tarik.

“Karena sumber daya alam kita luar biasa. Gimana ada daya tariknya, biar anak muda mau kembali ke kampung dan mengembangkan pertanian, untuk memenuhi target ketahanan pangan nasional kita, “ tandas Firman.

Selain pengembangan pertanian, Firman juga menyarankan pemerintah Indonesia memberikan perlindungan khusus terhadap komoditi-komoditi potensial. Semisal kelapa sawit yang terbukti sudah mampu menyumbang devisa negara dalam jumlah besar.

“Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, mereka sudah mempunyai regulasi untuk melindungi 4 komoditi strategis, yakni gandum, kedelai, kapas dan jagung, ada Undang-Undangnya. Lha di Indonesia belum, “ imbuhnya.

Usai Firman Subagyo menyampaikan materi percepatan regenerasi petani untuk mewujudkan kedaulatan pangan, kemudian dilanjutkan oleh pemateri lain yang memaparkan strategi membangun jaringan bisnis, modifikasi pupuk, inovasi produk makanan ringan dan kemasan produk makanan.

Kegiatan Bimtek ini ditangani oleh Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *