Pantang Menyerah, Dua Wanita Kab. Rembang Diganjar Penghargaan Dari Kementerian
Zaenab (baju putih) dan Damisih, dua wanita warga Kabupaten Rembang yang menerima penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak.
Zaenab (baju putih) dan Damisih, dua wanita warga Kabupaten Rembang yang menerima penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak.

Rembang – Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak memberikan penghargaan kepada 9 orang wanita yang dinilai berjuang dan bekerja keras mendorong pemberdayaan perempuan di tengah pandemi Covid-19. Penghargaan tersebut untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh tiap tanggal 08 Maret.

Menariknya, dari 9 wanita itu, 2 diantaranya merupakan warga Kabupaten Rembang, yakni Damisih warga Desa Pasar Banggi Rembang dan Zaenab Hafit, warga Desa Pedak, Kecamatan Sulang.

Damisih, hari Selasa (09/03) mengaku menerima penghargaan sebagai pelaku industri rumahan dan perempuan yang gigih meningkatkan kewirausahaan perempuan. Ibu tiga anak ini mengaku perjuangannya membangun usaha rumahan membuat rengginang dan dipadukan dengan olahan hasil laut tidak mudah. Banyak tantangan, terutama ketika barang yang diproduksi tidak laku di pasaran.

Namun berkat kegigihan dan semangat pantang menyerah, Damisih mampu mengembangkan industri rumahannya, sekaligus membuka lapangan kerja bagi ibu rumah tangga di sekitar rumahnya.

“Saya juga membuka pelatihan agar ibu-ibu di desa saya dapat membuka usaha sendiri dan membantu ekonomi keluarga, ” bebernya.

Sementara itu Zaenab Hafit, warga Desa Pedak Kecamatan Sulang diganjar penghargaan sebagai pendamping industri rumahan.

Sedikitnya ada 650 industri rumahan yang ia dampingi hingga saat ini. Zaenab mengaku banyak suka maupun duka, dalam mendampingi pelaku industri rumahan.

Termasuk kesulitan merubah pola pikir mereka. Pernah suatu ketika dirinya menerima telepon dari salah satu suami pelaku industri rumahan yang protes karena tidak suka melihat istrinya ikut pelatihan, dengan alasan perempuan harus di rumah saja.

Padahal tujuan industri rumahan semata-mata agar para perempuan lebih berdaya secara ekonomi melalui wirausaha.

“Berdaya bukan sekedar perempuan yang kerja di kantoran, dengan berwirausaha perempuan di manapun bisa merasakan manfaatnya, ” papar Zaenab.

Manakala perempuan berdaya, diharapkan bisa membantu anak-anaknya untuk sekolah tinggi dan kelak mewujudkan generasi penerus yang lebih baik. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan