Terparah Setelah Krisis Moneter, Pertumbuhan Ekonomi Kab. Rembang Minus
Kepala BPS Kabupaten Rembang, Henri Wagiyanto menunjukkan data kemiskinan. (Foto atas) Alun-Alun Rembang.
Kepala BPS Kabupaten Rembang, Henri Wagiyanto menunjukkan data kemiskinan. (Foto atas) Alun-Alun Rembang.

Rembang – Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Rembang selama tahun 2020, minus 1,49 %, karena terdampak pandemi Covid-19. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 lalu, tentu jauh berbeda, karena kala itu mencapai 5,2 %.

Penurunan ini merupakan yang terparah, setelah krisis moneter menjelang reformasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang, Henri Wagiyanto, hari Selasa (02 Maret 2021) menjelaskan pertumbuhan ekonomi diperoleh, setelah pihaknya menghitung produk domestik regional bruto (PDRB). Ada 17 sektor atau lapangan usaha yang didata BPS.

Selama pandemi terjadi, 6 sektor tumbuh positif di Kabupaten Rembang. Paling tinggi, sektor informasi dan komunikasi, kemudian disusul jasa kesehatan dan kegiatan sosial, serta sektor pertambangan dan penggalian.

“Warga beli paket data untuk internet meningkat, jasa kesehatan meningkat, beli jamu, beli sarana kesehatan, soalnya warga ingin menjaga diri dari Covid-19, “ tuturnya.

Sedangkan 11 sektor tumbuh negatif atau minus. Paling parah meliputi sektor transportasi dan pergudangan, jasa lainnya, serta penyediaan akomodasi makan dan minum.

“Di Jawa Tengah minus 3,34 %, kemudian tingkat nasional minus 2,07 %. Artinya, konstraksi di Kabupaten Rembang ini lebih rendah ketimbang nasional dan provinsi, “ imbuh Henri.

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi daerah tetangga, seperti Kabupaten Blora, Rembang masih cukup melegakan.

Pasalnya tahun 2020, Kabupaten Blora minus 4,66 %. Tapi untuk Kabupaten Pati lebih baik kondisinya, karena hanya terkontraksi minus 1,15 %.

Henri menambahkan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Rembang meningkat pada tahun 2020, sebanyak 100,08 ribu atau 15,6 %. Padahal tahun 2019 pada angka 95,26 ribu orang atau 14,95 %. Akibatnya, daya beli masyarakat semakin menurun. Ia berharap setelah ada program vaksinasi Covid-19, akan mempercepat pemulihan ekonomi.

“Masyarakat cenderung menahan diri. Punya tabungan pun tidak cepat-cepat dikeluarkan, soalnya belum tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Kalau pun ada bantuan dari pemerintah, sifatnya sementara. Semoga setelah ada vaksinasi, ekonomi akan berangsur-angsur normal kembali, “ terangnya.

Angka kemiskinan di Kabupaten Rembang 15,6 % ini merupakan terparah nomor 7 se Jawa Tengah, setelah Kabupaten Kebumen, Wonosobo, Brebes, Pemalang, Purbalingga, dan Kabupaten Banjarnegara. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *