Hasil UKW Diumumkan, Pihak PWI Pusat Berikan Kritikan Tajam
Wartawan yang mengikuti UKW jenjang utama di Semarang dan ditutup pada Sabtu siang (27/02).
Wartawan yang mengikuti UKW jenjang utama di Semarang dan ditutup pada Sabtu siang (27/02).

Semarang – Ketua Komisi Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Hendro Basuki melontarkan kritikan tajam terhadap para wartawan yang mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Hotel Novotel Semarang, 26 – 27 Februari 2021. UKW digelar oleh PWI Jawa Tengah bersama PT Semen Gresik.

Saat penutupan UKW, Sabtu siang (27/02), Hendro Basuki menyimpulkan 99 % wartawan tidak pernah membaca buku. Ia mencontohkan saat bertanya kepada peserta, jawaban mereka sering tidak tepat dan hanya kira-kira.

“Saya tanya apa berita investigasi, jawabannya pendapat dia, bukan penjelasan secara teori. Maka keluar dari ruangan ini, anda wajib beli buku, “ kata Hendro.

Ketua PWI Jawa Tengah, Amir Machmud NS lebih menyoroti seputar perbandingan UKW di Jawa Tengah dengan provinsi lain. Di Jawa Tengah hanya memungut iuran paling tinggi Rp 350 ribu per orang, padahal di provinsi lain kerap ditemukan peserta harus bayar antara Rp 1,5 – 3 Juta untuk mengikuti UKW.

“Kami memungut itu sebagai bentuk keterikatan, kita hidup-hidupi organisasi ini dengan kecintaan dan kebanggaan pada organisasi kita, “ papar Amir.

Sementara itu, Sasongko Tedjo, Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat yang didaulat membacakan hasil Uji Kompetensi Wartawan (UKW) menyampaikan semula ada 24 orang peserta. Masing-masing 6 orang jenjang Utama dan 18 orang jenjang Muda.

Namun 3 peserta jenjang muda tidak bisa hadir karena sakit, termasuk mengalami kecelakaan lalu lintas, sehingga totalnya tinggal 21 peserta.

“Dari 21 orang itu, di jenjang utama semua lulus/kompeten, sedangkan jenjang muda terdapat 2 peserta dinyatakan tidak kompeten dan bisa mengulangi lagi pada UKW berikutnya, “ terangnya.

Ketua PWI Kabupaten Rembang, Musyafa Musa yang menjadi salah satu peserta mengaku lega akhirnya bisa menuntaskan UKW jenjang utama ini.

“Dulu saya awali dari tingkatan Muda, kemudian Madya dan sekarang Utama. Ya insyaallah menjadi ilmu yang bermanfaat, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *