Warga Menolak Vaksin Karena Takut Jarum Suntik, Adakah Metode Lain ?
Warga di tingkat bawah, menyikapi beragam rencana vaksinasi.
Warga di tingkat bawah, menyikapi beragam rencana vaksinasi.

Rembang – Setelah vaksinasi Covid-19 untuk tenaga medis dan aparat pemerintah selesai, nantinya giliran masyarakat akan menerima vaksin. Nah..kira-kira bagaimana respon masyarakat menanggapi rencana tersebut ?

Saya menemui sejumlah warga di berbagai lokasi berbeda. Ternyata memang benar. Meski terdengar sepele, namun tidak mau divaksin karena alasan takut jarum suntik, masih kerap saya temukan.

Salah satunya Abdul Hamid, warga Desa Punjulharjo Rembang. Ia mengaku sejak dulu ketika tahu jarum suntik, langsung gemetar. Pria yang berprofesi sebagai tukang ojek ini enggan divaksin apabila menggunakan jarum suntik. Tapi jika ada kemungkinan diteteskan, Abdul Hamid baru siap.

“Pokoknya saya nggak mau, karena takut sama jarumnya. Nggak berani pak, gemetar, “ ungkapnya.

Abdul Hamid tidak sendiri. Simak pula penuturan Suheri, seorang pemulung dari Desa Kebonagung, Kecamatan Sulang. Ia juga merasa trauma kalau melihat jarum suntik. Mau dipaksa seperti apapun, tetap tidak mau divaksin.

“Takut disuntik saja. Pokoknya kalau divaksin nggak mau. Dipaksa ya tetap nggak mau, lha wong saya merasa sehat kok, “ kata Suheri sambil memilah-milah sampah.

Komentar serupa dilontarkan Keman, kusir dokar warga Desa Weton, Rembang. Ia mengungkapkan sejak kecil sangat jarang disuntik, karena takut. Ketika sakit, selalu menghindari suntik dan memilih minum obat.

“Kulo banget wedine, boten nate suntik-suntik. Nopo malih waktu jagong-jagong wonten deso, sanjange yen fisike boten kuat, malah nimbulke efek samping. (Saya takut sekali, tidak pernah suntik-suntik, apalagi waktu ngobrol-ngobrol di desa, kalau fisik tidak kuat, akan menimbulkan efek samping-Red), “ ungkapnya.

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofii menyatakan pemberian vaksin Sinovac, hanya menggunakan jarum suntik. Tidak ada cara lain, semisal model tetes. Menurut Ali, penyuntikan adalah hal biasa dan tidak perlu ditakutkan.

“Vaksinasi dasar pada balita, kemudian ke anak sekolah dengan menyuntik, ya sama seperti itu, sudah biasa. Metodenya dengan penyuntikan, aman, nggak masalah, “ ujar Ali.

Ali mengingatkan target supaya penyebaran Covid-19 dapat diputus, apabila 2 per 3 dari jumlah penduduk memperoleh vaksin. Di Kabupaten Rembang angka sasaran mencapai 446 ribu orang.

Di sisi lain, banyak pula warga yang siap menerima vaksin dan menyukseskan kegiatan tersebut.

Susanti, warga Kelurahan Leteh, Rembang mengatakan meski takut, tapi akan menyesuaikan.

“Takut nggak takut, sebenarnya takut. Tapi kalau adanya suntik, ya mau gimana lagi, “ bebernya.

Imam Rahmat Saputra, pemilik angkringan di Jl. Pemuda – Rembang siap mendukung vaksin, karena sangat berharap pandemi Covid-19 bisa lekas berakhir. Ia merasakan betul dampak pandemi, begitu luar biasa. Termasuk memukul usaha mikro seperti miliknya.

“Saya siap divaksin, biar pandemi selesai dan pedagang kecil nggak susah lagi, “ kata Imam.

Begitu pula sikap Alfian, warga Desa Sedan. Alfian berpendapat susahnya perekonomian akibat pandemi, mestinya mendorong semua pihak untuk berpartisipasi dalam program vaksinasi.

“Rasa takut jarum suntik ya harus dilawan, “ tandasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *