Penyebutan Lasem Tiongkok Kecil Ditolak, Aliansi Berikan Sejumlah Catatan Lain
Sejumlah tokoh ulama Lasem menggalar audiensi dengan Bupati Rembang, Kamis (21 Januari 2021).
Sejumlah tokoh ulama Lasem menggelar audiensi dengan Bupati Rembang, Kamis (21 Januari 2021).

Rembang – Sejumlah tokoh Lasem yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Santri Lasem, hari Kamis (21 Januari 2021) datang ke Kantor Bupati Rembang, guna memberikan sejumlah catatan terhadap rencana penataan Kota Pusaka Lasem.

H. Slamet, selaku Ketua Aliansi Masyarakat Santri Lasem saat audiensi di ruang rapat Bupati menyampaikan pihaknya tidak setuju apabila ada penyebutan Lasem sebagai Tiongkok Kecil.

“Dalam hal ini kami tidak setuju dengan penyebutan Tiongkok Kecil. Penolakan ini sudah pernah terjadi di tahun 2019 dan sudah ada kesepakatan menghilangkan penyebutan Tiongkok Kecil, “ paparnya.

Selain itu, Lasem disebut sebagai tujuan ziarah, meliputi makam Sunan Bonang, Pondok Pesantren Kauman dan Pondok Pesantren Al-Hidayat. Menurutnya, masih ada sejumlah makam yang tidak masuk dalam dokumen.

“Kami ingin mengusulkan ditambahkan Masjid Tiban, Makam Nyai Ageng Maloka Desa Gedongmulyo dan sejumlah makam lainnya di Desa Soditan dan Ngemplak, “ imbuh H. Slamet.

Slamet menambahkan Lasem sebagai Kampung Batik akulturasi budaya. Dari data yang tercantum, masih banyak pengrajin batik asli Lasem yang belum tertulis. Selanjutnya Lasem kota pesantren, belum mencantumkan sejumlah pondok pesantren. Selain itu, aliansi juga mengusulkan supaya area parkir belakang Masjid Jami’ Lasem dikembalikan statusnya seperti semula sebagai tanah waqaf makam.

Penasehat Aliansi Masyarakat Santri Lasem, KH. Ahfas Faishol Hamid Baidhowi yang hadir dalam pertemuan tersebut berpendapat bahwa Lasem sejak dulu menjadi bagian dakwah para wali dan ulama, sehingga pihaknya merasa punya kewajiban untuk tetap menjaga. Ia berharap dalam pembangunan tetap proporsional, supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman pada generasi mendatang.

“Kita khawatir yang menjadi korban adalah anak cucu kami. Melihat Lasem seperti ini, maka timbullah kesalahpahaman dalam sejarah, “ ungkapnya.

Pria yang biasa disapa Gus Ahfas ini berharap masih ada pintu diskusi, dengan melibatkan lebih banyak tokoh-tokoh Lasem. Jangan sampai hanya sekelompok kecil saja yang dilibatkan, padahal belum mewakili masyarakat Lasem.

“Kalau pak Bupati menyampaikan telah menggandeng beberapa teman dari Lasem, menurut kami mereka tidak mewakili secara keseluruhan elemen pesantren maupun masyarakat Islam Lasem. Mungkin mereka hanya berpikir, apa yang menjadi angan-angannya tercapai, ya sudah selesai, “ beber Gus Ahfas.

Sementara itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz setelah mendengar usulan dari Aliansi Masyarakat Santri Lasem, menilai tidak begitu berat untuk direalisasi. Ia menugaskan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dwi Wahyuni Haryati menindaklanjuti usulan tersebut. Termasuk berkoordinasi dengan pihak konsultan.

“Saya kira nggak berat. Bappeda bisa memberikan respon yang komprehensif, sehingga apa yang akan kita lakukan nanti tidak ada kendala di lapangan. Esensinya untuk membangkitkan sejarah, tapi sejarah kalau dibelokkan dengan pembangunan fisik, apa yang disampaikan Gus Ahfas tadi, saya sangat setuju, “ urai Bupati.

Sebelumnya, pemerintah pusat tahun 2021 ini akan melakukan penataan Kota Pusaka Lasem. Ada sejumlah titik yang akan disasar, seperti Masjid Jami’ Lasem, pasar dan taman di depan Masjid maupun kawasan Pecinan. Pemkab Rembang sempat mengusulkan total anggaran Rp 65 Miliar. (Musyafa Musa).

News Reporter

1 thought on “Penyebutan Lasem Tiongkok Kecil Ditolak, Aliansi Berikan Sejumlah Catatan Lain

  1. Saya Riris andwianto (pak RW 01 Sumbergirang lasem), Masyarakat lasem sangat setuju dan sangat mendukung apa yang di sampaikan oleh aliansi masyarakat santri lasem… Dan kami berharap semoga terealisasi dengan baikan kami siap mengawal dengan baik!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *