“Kampanyekan Kurangi Ketergantungan, Sulitnya Seperti Mengajak Pindah Agama…”
Paminto Dwi Atmojo mengambil air kencing kambing yang ditampung ke dalam timba. (Foto atas) Penyemprotan di lahan sawah miliknya dengan pupuk organik cair, berbahan air kencing kambing.
Paminto Dwi Atmojo mengambil air kencing kambing yang ditampung ke dalam timba. (Foto atas) Penyemprotan di lahan sawah miliknya dengan pupuk organik cair, berbahan air kencing kambing.

Sulang – Sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi, tidak begitu dirasakan oleh petani yang satu ini, karena ia justru lebih mengandalkan pupuk organik, dengan memanfaatkan air kencing (urine) kambing. Nah..menarik kan ? seperti apa kisahnya dan bagaimana cara membuat, saksikan sampai tuntas ya.

Namanya Paminto Dwi Atmojo, pria warga Desa Kabongan Kidul, Rembang ini memiliki lahan yang cukup luas di Desa Pedak, Kecamatan Sulang, depan GOR Mbesi Rembang.

Pria berusia 63 tahun tersebut, mengembangkan lahan untuk peternakan kambing gibas lebih dari 200 ekor, sedangkan sekira 2 hektar lahan lainnya ditanami padi. Lahan persawahan dulunya merupakan kebun jati, kemudian sempat menjadi tambang tanah uruk, sehingga dikenal lahan yang tandus. Butuh tenaga ekstra, untuk mewujudkan kesuburan tanah.

Antara ternak kambing dengan padi milik Paminto Dwi Atmojo, mempunyai keterikatan sangat kuat, karena kencing dan kotoran kambing menjadi pemasok utama pupuk organik.

Paminto membaginya menjadi 2 macam. Pertama, pupuk dari bahan baku kotoran kambing. Setelah digiling, dikemas dalam karung-karung kecil. Mungkin sudah biasa kalau seperti itu.

“Sudah banyak pelaku usaha tanaman hias yang pesan. 1 sak nya saya kasih harga Rp 22.500, tapi untuk harga masyarakat umum Rp 25 ribu, “ tuturnya.

Kedua, yang jarang dilakukan oleh petani pada umumnya, yakni mengolah kencing kambing menjadi pupuk organik cair (POC), karena diyakini air kencing kambing terdapat kandungan unsur Nitrogen, Phospat dan Kalium yang mampu menyuburkan tanah.

Paminto menjelaskan cara pembuatan pupuk organik cair dari kencing kambing. Terlebih dahulu menampung urine kambing, kemudian dimasukkan ke dalam wadah khusus. Setelah itu, ia menumbuk berbagai macam rempah-rempah, meliputi jeruk purut beserta daunnya dan batang daun serai berfungsi untuk meredam bau kencing kambing agar tidak menyengat, kemudian bawang putih dan bawang merah sebagai zat perangsang tumbuhnya tanaman, dan kunir untuk antibiotik.

“Semua bahan itu saya masukkan ke dalam timba, lalu saya tumbuk. Nggak perlu terlalu halus, yang penting saling nyampur, “ imbuh Paminto.

Hasil tumbukan rempah-rempah dimasukkan ke kantong plastik yang dilubangi, selanjutnya direndam ke dalam tampungan kencing kambing. Jangan lupa campurkan secukupnya cairan EM4 khusus tanaman, untuk bakteri fermentasi. Tutup rapat-rapat, tunggu hingga 1 Minggu proses fermentasi, pupuk organik cair dari kencing kambing siap digunakan.

“EM4 yang botolnya warna kuning ya, itu khusus untuk tanaman. Soalnya EM4 ada 2 warna, jadi jangan sampai salah pilih, “ paparnya tersenyum.

Paminto menambahkan biasanya untuk mesin semprotan isi 16 liter, ia menuangkan pupuk organik cair sebanyak 3 gelas minuman mineral, dan dilarutkan dengan air.

Sekarang waktunya disemprotkan ke tanaman padi. Dari uji coba kali pertama ini, sejauh pantauannya pertumbuhan tanaman yang dipupuk organik, tidak kalah dengan taburan pupuk kimia.

“Nanti kalau sudah mendekati panen, saya akan dokumentasikan hasilnya. Paling tidak bisa untuk bahan perbandingan, “ terangnya.

Paminto mengaku belajar membuat pupuk berbahan kencing kambing secara autodidak. Menurutnya, selain jauh lebih murah dan ramah lingkungan, petani juga bisa mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia buatan pabrik. Ia menganggap masih sulit mengajak petani beralih ke pupuk organik. Bahkan sama halnya seperti mengajak pindah agama.

Maka bagi petani yang ingin mencoba, dirinya siap memberikan gratis dulu, dengan tujuan supaya mereka bisa merasakan sendiri manfaatnya.

“Nggak apa-apa kalau ada yang mau nyoba, saya kasih gratis dulu. Saya paham petani kita rata-rata sudah tergantung sama pupuk kimia. Ngajak pindah ke organik, berat banget, sama seperti ngajak pindah agama, “ kata Paminto.

Pada musim tanam tahun sebelumnya, Paminto sudah merasakan betul, betapa hebatnya pengaruh pupuk organik. Dikala curah hujan rendah, tanaman padinya tumbuh subur. Bahkan kualitas beras yang dihasilkan termasuk super, harganya sebagian laku paling tinggi Rp 15 ribu per kilo gram.

Tahun 2021 ini, Paminto membuat percontohan sekira 0,5 hektar tanaman padinya 100 % hanya diberi pupuk organik. Tapi sisa lahan yang lain, dicampur antara organik dan pupuk kimia. Ia ingin membandingkan perbedaannya, sekaligus untuk bahan evaluasi dan sarana belajar, sampai akhirnya menemukan konsep terbaik pemakaian pupuk organik.

“Do’akan, semoga lancar dan kelak bisa bermanfaat untuk saya tularkan ke petani lain mas, “ pungkasnya menyudahi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *