Temuan Uang Kuno, Pemerhati Sejarah Beberkan Prediksi Asal Usul Masanya
Petani menunjukkan tempat ditemukan guci berisi uang kuno. (Foto atas) Kepingan uang kuno dihitung.
Petani menunjukkan tempat ditemukan guci berisi uang kuno. (Foto atas) Kepingan uang kuno dihitung.

Sumber – Pemerhati sejarah memperkirakan uang kuno yang ditemukan petani di Desa Megulung, Kecamatan Sumber, merupakan uang koin China, peninggalan sekira abad ke-18.

Pemerhati sejarah dari Padepokan Sambua Lasem, Abdullah Hamid, Senin siang (11 Januari 2021) mengatakan ribuan keping koin China, tahun 2016 silam juga pernah ditemukan oleh petani di Desa Gowak Kecamatan Lasem.

Ia menggambarkan bahwa era tahun 1800 an, merupakan masa kolonial Hindia Belanda. Kala itu terdapat Kadipaten Lasem dan masih bercokol Kerajaan Mataram Islam. Untuk perbandingan, tahun 1825 Pangeran Diponegoro sedang gigih-gigihnya melawan Hindia Belanda. Kebetulan pada masa tersebut, banyak pedagang-pedagang China masuk ke wilayah Lasem.

Oleh Hindia Belanda, warga China ditempatkan sebagai warga kelas dua, sehingga memiliki peran strategis, termasuk dalam menjalankan aktivitas berdagang.

“Tahun 1800 an pedagang China cukup dominan di sini, sehari-hari pakainya ya uang koin China. Keberadaan mereka seperti mendapatkan angin segar dari kolonial Hindia Belanda yang menancapkan pengaruhnya cukup besar di tanah Jawa, “ tutur Abdullah.

Abdullah menambahkan uang koin China pada masanya berfungsi untuk alat tukar, karena kebetulan jumlah pedagang China cukup banyak. Selain itu juga menjadi simpanan dan sesuai tradisi mereka, ikut dikubur manakala ada warga China meninggal dunia.

Lalu kenapa bisa ditemukan di Desa Megulung Kecamatan Sumber, padahal di daerah tersebut bukan kawasan pesisir dan jauh dari budaya China ? Abdullah Hamid mengungkap sejumlah kemungkinan. Pertama, bisa saja uang disembunyikan oleh pemiliknya ke daerah pelosok, manakala terjadi perang. Mengingat di abad ke-18 ada Perang Pecinan dan Perang Sabil di Lasem.

“Daripada ditaruh di rumah nanti malah jadi sasaran, akhirnya disembunyikan ke tempat-tempat pelosok, biar aman, “ imbuhnya.

Kemungkinan lain, uang kuno tersebut terseret bencana banjir besar, kemudian terpendam di dalam tanah. Tapi untuk informasi lebih akurat, ia menyarankan sebaiknya menunggu hasil penelitian dari Balai Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya.

“Ini kan sifatnya perkiraan ya, nanti biar diteliti oleh otoritas berwenang, “ terang Abdullah.

Menurut pengamatannya, uang kuno China seperti itu lebih baik disimpan saja, guna memperkaya khazanah peninggalan sejarah dan jangan diperjualbelikan.

Pemerintah tinggal memberikan tali asih sebagai bentuk kepedulian kepada warga yang menemukan. Kalaupun dijual ke pasaran, Abdullah menilai harganya tidak terlalu mahal.

“Semisal kelak ada Museum di Rembang, itu bisa dimasukkan untuk koleksi Museum. Setelah diteliti, tentunya akan bermanfaat sebagai sarana edukasi berkelanjutan buat anak cucu kita kelak, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *