Pemkab Rembang Gelar Pentas Seni Virtual Untuk Pertama Kali, Langsung Menuai Kritikan
PJS Bupati Rembang, Imam Maskur menyerahkan secara simbolis wayang kepada dalang Ki Gondrong Al-Frustasi di Pendopo Museum Kartini, Kamis malam (05/11).
PJS Bupati Rembang, Imam Maskur menyerahkan secara simbolis wayang kepada dalang Ki Gondrong Al-Frustasi di Pendopo Museum Kartini, Kamis malam (05/11).

Rembang – Pentas wayang kulit secara virtual/online digelar untuk kali pertama di Pendopo Museum Kartini Rembang, Kamis malam (05/11). Kegiatan yang difasilitasi oleh Pemkab Rembang tersebut, sebagai bagian tetap menghidupkan aktivitas seni di tengah pandemi Covid-19, setelah muncul larangan pentas/tanggapan, untuk menghindari kerumunan orang.

Pentas wayang kulit ini mengambil lakon “Kumbakarna Gugur” dengan menghadirkan dalang Ki Gondrong Al-Frustasi. Hanya Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Rembang saja yang diundang, sedangkan masyarakat bisa menonton di channel Youtube Pemerintah Kabupaten Rembang.

Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Rembang, Imam Maskur dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi kepada para pelaku seni dan budayawan, karena masih tetap mematuhi anjuran pemerintah. Upaya pentas seni secara virtual dengan menerapkan protokol kesehatan ini, diharapkan juga bisa membantu para pelaku seni.

“Rencananya pentas seni secara virtual akan dilaksanakan rutin setiap Senin malam dan Kamis malam. Untuk lokasi, dipusatkan di Pendopo Museum RA Kartini,” terangnya.

Sementara itu dalang Ki Gondrong Al-Frustasi mengaku meski honor yang diterima dari Pemkab tak sebanyak saat tanggapan di rumah warga, namun setidaknya dapat menyambung hidup para pelaku seni.

“Ini merupakan partisipasi dari pegiat seni dan partisipasi rasa welas asihnya pemerintah daerah. Kalau Pemda atau bapak kita gak membuka, ya nggak bisa. Bapak ngerti sambate anak, begitu juga anak mau ngerti sambate wong tuwo, ” ujarnya.

Pentas seni virtual tersebut akan menampilkan berbagai kesenian hiburan. Pada Senin mendatang giliran ditampilkan pagelaran kethoprak.

Dihubungi terpisah, Marijan “Jan Koplo”, pemilik usaha sound system mengkritik konsep pentas virtual justru rawan memicu kecemburuan antar pekerja di bidang seni, karena pembagian jadwalnya tidak bisa merata. Ia menyebut yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Pria warga Magersari, Rembang ini menambahkan untuk wayang atau kethoprak, sekali pentas dialokasikan anggaran sebesar Rp 15 Juta, sedangkan live musik Rp 4 Juta.

“Tukang sound di Kecamatan Rembang Kota saja ada 60 an, paling yang kepakai cuma 1 atau 2. Belum lagi kalau group wayang atau kethoprak bawa sound sendiri. Kemudian tukang shooting, itu mbaginya gimana, “ keluh Marijan.

Marijan membenarkan dirinya sempat dipasrahi menjadi koordinator sound system. Tapi ia pribadi bingung bagaimana caranya mengatur.

“Nanti pasti ada yang nggak kebagian, lha rai (wajah-red) saya mau ditaruh di mana mas. Malah jadi beban, jujur saja pusing saya, “ imbuhnya.

Marijan menyarankan lebih baik anggaran yang ada digunakan untuk memperkuat bantuan langsung berupa uang kepada pekerja seni, yang memang benar-benar terdampak.

“Kalau cara pentas virtual, antar pekerja seni seperti diadu. Lhah mau kuat pentas virtual sampai berapa kali. Mohon dicarikan solusi yang lebih pas, “ pungkas Marijan.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kebudayaan Dinbudpar, Purwono saat dikonfirmasi mengakui anggaran untuk pelaksanaan pentas virtual belum jelas dari sumber mana.

“Untuk pentas virtual pertama, seluruh biaya diserahkan kepada Dinbudpar, ya kita laksanakan. Kita juga mengimbau para pelaku seni mau bersabar, ” pinta Purwono. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *