Ingin Tahu Daerah Mana Saja Yang Sudah Panen Padi, Lokasi Ini Bisa Menjadi Pathokan
Truk-truk pengangkut gabah di area gudang beras PT Sari Buana (Bahien), didominasi dari luar daerah. Tampak dua truk ini dari Magelang dan Sragen.
Truk-truk pengangkut gabah di area gudang beras PT Sari Buana (Bahien), didominasi dari luar daerah. Tampak dua truk ini dari Magelang dan Sragen.

Rembang – Musim kering di Kabupaten Rembang, mengakibatkan pasokan beras lebih banyak mengandalkan bahan baku dari luar daerah.

Kamis siang (15 Oktober 2020), pantauan di area parkir truk Gudang Beras PT Sari Buana di pinggir Jl. Rembang – Blora, hampir semua truk memuat gabah dari luar Kabupaten Rembang. Mulai wilayah Cepu Kabupaten Blora, Kabupaten Sragen, Magelang hingga Banyumas. Mereka menunggu antrean, sebelum masuk ke lokasi penggilingan gabah terbesar di Kabupaten Rembang tersebut.

Kardi, seorang sopir truk mengaku membawa gabah dari wilayah Sragen ke Rembang, menempuh perjalanan selama 6 jam. Ia membenarkan gabah yang diangkutnya merupakan hasil tebasan dari lahan irigasi. Karena harga beli bagus, sehingga bos nya memilih menyetorkan barang ke Rembang.

“Dari Tunjungan, Sragen, sudah banyak yang panen di sana, soalnya pakai irigasi. Saya baru kali pertama ke Rembang sini, harapannya bisa ke sini terus, “ kata Kardi.

Hal senada diungkapkan Suparmin, sopir truk dari Cepu, Kabupaten Blora. Menurutnya, petani di Cepu tidak hanya mengandalkan aliran sungai Bengawan Solo, tetapi juga memanfaatkan air bawah tanah untuk sarana pengairan. Saat ini di sebagian wilayah Cepu, sudah memasuki masa panen raya padi.

“Kalau saya sering setor gabah ke sini. Apalagi sekarang di Cepu pas panen raya padi ini, “ tuturnya.

Pengusaha beras PT Sari Buana, Feri mengungkapkan lahan pertanian di Kabupaten Rembang sendiri, sulit bisa panen padi setahun 2 kali, karena keterbatasan air. Kecuali untuk wilayah-wilayah seperti Pamotan dan Sale yang disuplai air irigasi.

“Kabupaten Rembang, perkiraan panen padi baru bulan Maret – April tahun depan, “ ujarnya.

Maka ia mengandalkan pasokan gabah dari luar daerah. Pihaknya berupaya tidak menekan harga di tingkat bawah, agar para petani maupun penebas bisa merasakan imbas positif.

“Saya cenderung pilih kualitas beras atau outputnya. Kalau kita bisa main kualitas, dalam tanda kutip di bawah pun akan ikut merasakan dampak positifnya. Makanya kenapa yang dari Sragen, Banyumas datang ke sini. Dalam sehari, rata-rata ada 30 an truk, “ kata Feri yang berhasil mempopulerkan beras merek Bahien (beras higienis-Red) ini. Bahien diambil dari nama mendiang ayahnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *