Kisah Perjuangan Ratna Maya, Saat Sang Ibu Menangis Tak Ingin Diketahui Anaknya
Upaya penggalangan dana untuk Ratna Maya yang mengalami kelainan pigmen kulit.
Upaya penggalangan dana untuk Ratna Maya yang mengalami kelainan pigmen kulit.

Rembang – Kisah perjuangan anak perempuan ini untuk bertahan dari rasa sakit, sungguh membuat hati teriris, bahkan yang melihatnya tak terasa meneteskan air mata.

Yah..namanya Ratna Maya, berusia 5 tahun, putri bungsu dari 3 bersaudara, anak pasangan Eko Mustofa dan Sri Rahayu.

Eko Mustofa asli warga Desa Weton, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kini tinggal di Jl. Bambu Hitam Gg. Mild No. 74 RT 04 RW 01 Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, karena sedang mengadu nasib bekerja di Ibu Kota.

Ratna Maya sejak lahir mengalami kelainan pigmen kulit. Sebagian kulitnya putih, namun sebagian lainnya berwarna hitam seperti melepuh. Di bagian punggung, bahkan semua sudah menghitam dan muncul benjolan di pundak sisi kiri yang harus dioperasi pada bulan Maret lalu. Kondisinya semakin parah, karena terdapat luka di punggung. Tiap 3 hari sekali mesti dibalut perban steril. Sekali ganti perban, rata-rata membutuhkan biaya Rp 300 ribu.

Minggu siang (04 Oktober 2020), Sri Rahayu (34 tahun), sang ibunda menceritakan di Jakarta saat ini masih diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sehingga belum bisa merawat anaknya ke rumah sakit. Apalagi ruang anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sekarang beralih fungsi menjadi ruang isolasi pasien anak yang terpapar Covid-19.

Ia terpaksa meminta bantuan rekannya yang berprofesi sebagai perawat untuk rutin mengganti perban.

“Biasanya dikasih madu dulu, kemudian baru diperban mas, “ ujarnya melalui layanan Whatsapp.

Ketika kulit berkeringat dan memicu rasa gatal, saat itulah Ratna mulai kesakitan. Untuk tidur pun susah. Tak heran, bocah ini setiap saat selalu berdekatan dengan kipas angin, sekedar mengurangi rasa sakit.

“Dik Ratna belum sekolah, karena kondisi kesehatannya seperti itu. Tapi hasrat ingin bersekolah sangat tinggi, ia sering tanya sama saya kapan disekolahkan, “ bebernya.

3 hari sekali mengeluarkan biaya Rp 300 ribu, menurut Sri bukanlah urusan mudah bagi keluarganya. Ia dan suami hanya bekerja sebagai pegawai honorer di panti anak, dengan gaji pas-pasan untuk menyambung hidup sehari-hari.

“Terpaksa gali lubang tutup lubang tiap bulan. Semua demi kesembuhan anak saya, “ imbuh Sri lirih.

Meski cukup berat melewati masa-masa sulit ini, Sri dan suami tak menyerah. Memang kadang kala rasa sedih menggelayuti, melihat sang buah hati tak bisa bebas bergerak, makanan pun banyak pantangan yang harus dihindari.

Sebagai ibu, Sri sering menangis. Namun ia lebih memilih menyendiri di dalam kamar, supaya anak-anaknya tidak tahu.

“Kalau saya di depan anak-anak, harus tetap tampil happy, biar mereka juga semangat. Mbah-mbahnya dari Weton, Rembang juga ke sini ikut bantu nunggui, “ ungkapnya.

Karena ikut merasakan penderitaan Ratna Maya dan keluarga, ada seorang rekannya, sama-sama berasal dari Kabupaten Rembang yang berinisiatif menggalang dana, untuk biaya pengobatan Ratna.

Ia memohon kepada kaum dermawan yang ingin membantu, bisa menyalurkan donasinya ke nomor rekening Bank Mandiri 1150007312921 atas nama Winanto.

Paling tidak bantuan tersebut dapat meringankan perjuangan Ratna bertahan hidup dari kelainan pigmen kulit. (Musyafa Musa).

News Reporter

3 thoughts on “Kisah Perjuangan Ratna Maya, Saat Sang Ibu Menangis Tak Ingin Diketahui Anaknya

Tinggalkan Balasan ke musa r2b Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *